Jumat, 26 Oktober 2012

LAYANAN KONSELING INDIVIDU


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdaarkan norma-norma yang berlaku (SK Mendikbud No. 025/D/1995)
  Bimbingan dan konseling merupakan  upaya proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal, pengembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya. Semua perubahan perilaku tersebut merupakan proses perkembangan individu, yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui interaksi yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan, membangun interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan, membelajarkan individu untuk mengembangkan, merubah dan memperbaiki perilaku.

     Dalam kajian Bimbingan dan Konseling kita mempelajari banyak hal yang berhubungan dengan bimbingan dari konselor kepada klien untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh klien. Terlebih lagi mengenai jenis-jenis layanan dalam bimbingan dan konseling yang terbagi menjadi beberapa layanan ini memiliki fungsi dan kegiatan yang berbeda-beda. Dengan perbedaan itu akan dikaji secara mendalam mengenai pengertian layanan-layanan dalam suatu konteks tertentu sehingga kita dapat memahami makna layanan-layanan itu.
     Sehingga dalam pembahasan layanan-layanan bimbingan dan konseling ini bertujuan untuk membantu para klien yang mengalami masalah agar dapat mengambil keputusan secara tepat dan akurat dengan bantuan konselor. Selain itu, akan dibahas pula mengenai pengertian masing-masing layanan tersebut sehingga akan jelas tindakan klien jika mereka mempunyai masalah yang tidak dapat diselesaikan sendiri. Sehingga peran konselor sangat penting untuk membantu kliennya.
Salah satu jenis layanan bimbingan konseling adalah layanan konseling individu. Konseling individu merupakan layanan konseling yang diselenggarakan oleh seorang konselor terhadap seorang klien dalam rangka pengentasan masalah pribadi klien. Dalam konsleing individu pemberian bantuan dilakukan secara face to face relationship antara konselor dengan individu (konseli). Dalam konseling ini teori yang digunakan adalah konseling berpusat pada person yaitu yang memandang klien sebagai partner dan perlu adanya keserasian pengalaman baik pada klien mapun konselor dan keduanya perlu mengemukakan pengelamannya pada saat hubungan konseling berlangsung. Secara ideal konseling yang berpusat pada person tidak terbatas oleh tercapainya pribadi yang kongruensi saja. Menurut Rogers tujuan konseling pada dasarnya sama dengan tujuan kehidupan ini yaitu apa yang disebut dengan full functioning person yaitu pribadi yang berfungsi sepenuhnya. Dalam suasana tatap muka dilaksanakan interaksi langsung antara klien dan konselor, membahas berbagai hal tentang masalah yang dialami klien. Pembahasan tersebut bersifat mendalam menyentuh hal-hal penting tentang diri klien (bahkan sangat penting yang boleh jadi penyangkut rahasia pribadi klien). Masalah tersebut bisa meluas meliputi berbagai sisi yang menyangkut permasalahan klien, namun juga bersifat spesifik menuju ke arah pengentasan masalah. Dalam layanan konseling individu konselor memberikan ruang dan suasana yang memungkinkan klien membuka diri setransparan mungkin. Lebih lengkap lagi mengenai pengertian, teknik dan tujuan layanan konseling individu akan dibahas dalam makalah ini.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah definisi dari konseling individu?
2.      Apa saja tujuan layanan konseling individu?
3.      Bagaimana teknik yang digunakan dalam layanan konseling individu?
4.      Bagaimana prosedur pelaksanaan konseling individu?
5.      Bagaimana konseling individu diimplementasikan dalam studi kasus?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui definisi dari konseling individu.
2.      Mengetahui tujuan layanan konseling individu.
3.      Mengetahui teknik yang digunakan dalam layanan konseling individu.
4.      Mengetahui prosedur pelaksanaan konseling individu dan contoh kasusnya.
5.      Mengetahui contoh kasus yang diselesaikan menggunakan layanan konseling individu.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi
Konseling individu terjadi ketika seorang konselor bertemu secara pribadi dengan seorang siswa untuk tujuan konseling. Ini adalah interaksi antara konselor dan konseli dimana banyak yang berpikir bahwa ini adalah esensi dari pekerjaan konselor.
Layanan konseling individu merupakan bentuk layanan bimbingan dan konseling khusus antara peserta didik (klien) dengan konselor dan mendapat layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang diderita peserta didik (klien).
Konseling individu merupakan bentuk layanan yang paling utama dalam peaksanaan fungsi pengentasan masalah klien. Dengan demikian konseling perorangan merupakan “jantung hati”. Implikasi lain pengertian “jantung hati” adalah apabila seorang konselor telah menguasai dengan baik apa, mengapa dan bagaimana pelayanan konseling itu (memahami, menghayati dan menerapkan wawasan, pengetahuan dan ketrampilan dengan berbagai teknik dan teknologinya), maka diharapkan ia dapat menyelenggarakan layanan-layanan bimbingan lainnya tanpa mengalami banyak kesulitan.
Banyak peserta didik yang tidak mau membicarakan masalah pribadi atau urusan pribadi mereka dalam diskusi kelas dengan guru. Beberapa dari mereka ragu untuk berbicara di depan kelompok-kelompok kecil. Oleh karena itu, konseling individu dalam sekolah-sekolah, tidak terlepas dari psikoterapi, didasarkan pada asumsi bahwa konseli itu akan lebih suka berbicara sendirian dengan seorang konselor.
Selain itu, kerahasiaan, selalu dianggap sebagai dasar konseling. Akibatnya, muncul asumsi bahwa siswa membutuhkan pertemuan pribadi dengan seorang konselor untuk mengungkapkan pikiran mereka dan untuk meyakinkan bahwa pengungkapan mereka akan dilindungi. Tidak ada yang lebih aman daripada konseling individu.
Konseling individu sebagai intervensi mendapatkan popularitas dari pemikiran teoritis dan filosofis yang menekankan penghormatan terhadap nilai individu, perbedaan, dan hak-hak. Hubungan konseling bersifat pribadi. Hal ini memungkinkan beberapa jenis komunikasi yang berbeda terjadi antara konselor dan konseli, perlindungan integritas dan kesejahteraan konseli dilindungi.
Konseling telah dianggap sangat rumit, dengan setiap kata, infleksi sikap, dan keheningan yang dianggap penting,yang hanya bisa terjadi antara konselor yang terampil dan konseli yang berminat. Bersama-sama mereka mencari makna tersembunyi di balik perilaku. Seperti pemeriksaan pribadi memerlukan sikap permisif dan kebebasan untuk mengeksplorasi ide-ide secara mendalam, di bawah pengawasan ketat dari konselor. Selama bertahun-tahun, telah diasumsikan bahwa pengalaman ini hanya bisa terjadi dalam interaksi antara dua orang.
Materi yang dapat diangkat melalui layanan konseling perorangan ini ada berbagai macam, yang pada dasarnya tidak terbatas. Layanan ini dlilaksanakan untuk seluruh masalah peserta didik secara perrangan (dalam berbagai bidang bimbingan, yaitu bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karier).
B.     Tujuan Konseling Individu
Tujuan dari layanan konseling individu dibedakan menjadi dua bagian, yaitu:
1.      Tujuan Umum
Tujuan umum layanan konseling individu adalah terentasnya masalah yang dialami klien. Apabila masalah klien itu dicirikan sebagai:
(a) sesuatu yang tidak disukai adanya,
(b) suatu yang ingin dihilangkan
(c) sesuatu yang dapat menghambat atau menimbulkan kerugian
Maka upaya pengentasan masalah klien melalui konseling individu akan mengurangi intensitas ketidaksukaan atas keberadaan sesuatu yang dimaksud atau meniadakan keberadaan sesuatu yang dimaksud atau bisa jadi mengurangi intensitas hambatan kerugian yang ditimbulkan oleh suatu yang dimaksudkan itu. Dengan layanan konseling individu beban klien diringankan, kemampuan klien ditingkatkan, potensi klien dikembangkan. Tujuan umum layanan konseling individu adalah pengentasan masalah klien dengan demikian, fungsi pengentasan sangat dominan dalam layanan ini.
2.      Tujuan Khusus
Dalam kerangka tujuan umum itu, tujuan khusus layanan konseling individu dapat dirinci dan secara langsung dikaitkan dengan fungsi-fungsi konseling yang secara menyeluruh diembannya, antara lain:
a.       Melalui layanan konseling individu klien memahami seluk-beluk masalah yang dialami secara mendalam dan komprehensif, serta positif dan dinamis (fungsi pemahaman).
b.      Pemahaman itu mengarah kepada dikembangkannya persepsi dan sikap serta kegiatan demi terentaskannya secara spesifik masalah yang dialami klien itu (fungsi pengentasan). Pemahaman dan pengentasan masalah merupakan fokus yang sangat khas, kongkrit dan langsung ditangani dalam layanan konseling individu.
c.       Pengembangan dan pemeliharaan potensi klien dan berbagai unsur positif yang ada pada dirinya merupakan latar belakang pemahaman dan pengentasan masalah klien dapat dicapai (fungsi pengembangan atau pemeliharaan). Bahkan, secara tidak langsung, layanan konseling individu sering kali menjadikan pengembangan atau pemeliharaan potensi dan unsur-unsur positif klien sebagai fokus dan sasaran layanan.
d.      Pengembangan atau pemeliharan potensi dan unsur-unsur positif yang ada pada diri klien, diperkuat oleh terentaskannya masalah, akan merupakan kekuatan bagi tercegah menjalarnya masalah yang sekarang sedang dialami itu, serta (diharapkan) tercegah pula masalah-masalah baru yang mungkin timbul (fungsi pencegahan).
e.       Apabila masalah yang dialami klien menyangkut dilanggarnya hak-hak klien sehingga klien teraniaya dalam kadar tertentu, layanan konseling individu dapat menangani sasaran yang bersifat advokasi (fungsi advokasi). Melalui layanan konseling individu klien memiliki kemampuan untuk membela diri sendiri menghadapi keteraniayaan itu. Kelima sasaran yang merupakan wujud dari keseluruhan fungsi konseling itu, secara langsung mengarah kepada dipenuhinya kualitas untuk keperikehidupan sehari-hari yang efektif (effective daily living).
Gabungan capaian tujuan umum dan tujuan khusus yang dapat diraih melalui layanan konseling individu memperlihatkan betapa layanan konseling individu dapat disebut sebagai “jantung hatinya” seluruh pelayanan konseling. Dengan kemampuan layanan konseling individu, konselor dapat menjangkau keseluruhan daerah pelayanan konseling.
C.    Teknik Konseling Individu
Pengembangan proses layanan konseling individu oleh konselor dilandasi oleh dan sangat pengaruhi oleh suasana penerimaan, posisi duduk, dan hasil penstrukturan. Lebih lanjut, Konselor menggunakan berbagai teknik untuk mengembangkan proses konseling individu yang efektif dalam mencapai tujuan layanan. Teknik-teknik tersebut meliputi:
1.      Kontak mata
2.      Kontak psikologis
3.      Ajakan untuk berbicara
4.      Tiga M (mendengar dengan cermat, memahami secara tepat, merespon secara tepat dan positif)
5.      Keruntutan
6.      Pertanyaan terbuka
7.      Dorongan minimal
8.      Refleksi (isi dan perasaan)
9.      Penyimpulan
10.  Penafsiran
11.  Konfrontasi
12.  Ajakan untuk memikirkan sesuatu yang lain
13.  Peneguhan hasrat
14.  “Penfrustrasian” klien
15.  Strategi “tidak memaafkan klien”
16.  Suasana diam
17.  Transferensi dan kontra-transferensi
18.  Teknik eksperiensial
19.  Interprestasi pengalaman masa lampau
20.  Asosiasi bebas
21.  Sentuhan jasmaniah
22.  Penilaian
23.  Pelaporan
Penerapan teknik-teknik tersebut di atas dilakukan secara eklektik, dalam arti tidak harus berurutan satu persatu yang satu mendahului yang lain, melainkan terpilih dan terpadu mengacu kepada kebutuhan proses interaksi efektif sesuai dengan objek yang direncanakan dan susana proses pembentukan yang berkembang. Kontak psikologis dibina sejak awal-awal proses layanan yang di dalamnya ada ajakan untuk berbicara, selanjutnya berkembanglah interaksi intensif antara klien dan Konselor melalui pertanyaan terbuka, refleksi, penyimpulan, penafsiran, yang kadang-kadang (sesuai dengan keperluan) diselingi konfrontasi, ajakan untuk memikirkan sesuatu yang lain, dan peneguhan hasrat. Dalam pada itu, kontak mata, tiga-m, keruntutan dan dorongan minimal selalu mewarnai dan menyertai seluruh dinamika interaksi.
Teknik “menfrukstrasikan” dan strategi “tiada maaf” hanya digunakan secara benar-benar terpilih untuk membangkitkan dan menyadarkan klien akan tantangan yang harus ia hadapi serta meninggikan motivasi dan semangat dalam memasuki dan menggapai kesempatan yang terbuka. Kedua teknik ini, dan juga teknik konfrontasi,  seringkali diikuti oleh “suansana diam”.
Teknik berkenaan dengan transferensi dan kontra-tranferensi dapat dimunculkan dalam proses layanan dengan kontak psikolgis yang benar-benar intens. Intensitas proses layanan dapat ditempuh lebih jauh melalui teknik-teknik eksperimensial, analisis pengalaman masa lampau, dan asosiasi bebas. Teknik-teknik yang disebut terakhir ini hanya dilakukan untuk keperluan pendalaman yang khas sesuai dengan permasalahan klien. Untuk pendalaman yang dimaksudkan itu, dan untuk memberikan nuansa yang lebih bersifat afektif, sentuhan jasmaniah dapat dilakukan. Proses layanan konseling individu diakhiri dengan kegiatan penilaian dan pelaporan. Kegiatan ini dilaksanakan pada setiap kali sesi layanan konseling individu, khususnya untuk kegiatan penilaian segera.
D.    Prosedur Pelaksanaan Konseling Individu
Secara umum, proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah); (2) tahap inti (tahap kerja); dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan).
1.      Tahap Awal
Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya:
a.       Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling terutama azas kesukarelaan, keterbukaan, kerahasiaan dan kegiatan.
b.      Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri, maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien.
c.       Membuat penaksiran dan perjajagan. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien, dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah.
d.      Menegosiasikan kontrak. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien, berisi:
1)      Kontrak waktu, yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan.
2)      Kontrak tugas, yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien.
3)      Kontrak kerjasama dalam proses konseling, yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling.
2.      Inti (Tahap Kerja)
Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik, proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya:
a.       Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya.
b.      Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali), bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien.
c.       Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. Hal ini bisa terjadi jika:
1)      Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling, serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
2)      Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur, ikhlas dan benar-benar peduli terhadap klien.
3)      Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga, baik oleh pihak konselor maupun klien.
3.      Akhir (Tahap Tindakan)
Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu:
a.       Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling.
b.      Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya.
c.       Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).
d.      Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya.
Pada tahap akhir ditandai beberapa hal, yaitu:
a.       Menurunnya kecemasan klien
b.      Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat dan dinamis
c.       Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya
d.      Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.
E.     Skenario Studi Kasus Konseling Individu
1.      Kasus 1 (Dituduh Menjadi Pemakai NAPZA)
Konselor                : (Sedang di depan pintu hendak keluar,melihat seorang siswa berdiri diam didepan pintu masuk ruang BK,lantas….). Kamu Siska kan? Kok berdiri disini, apa ada perlu sama Ibu?
Konseli                   :Iya Bu, sebenarnya saya mau jumpa Ibu, tapi saya malu.
Konselor                :Mau jumpa Ibu?Ayo masuk….(sambil menuntun siswa   masuk). silakan duduk! Ada yang biasa Ibu bantu?
Konseli                   :Iya  Bu,…..saya lagi……
Konselor              :lagi apa..?!?!? sama Ibu kok malu-malu.
Konseli                :Begini Bu….!saya lagi bingung!
Konselor              :Bingung……?Iya..ya..coba !kamu cerita ke Ibu.
Konseli                :…………!?!?!?
Konselor             :Ayo,.katanya mau jumpa Ibu?
Konseli                :Saya dituduh Bu!
Konselor              :di tuduh?....maksudnya?
Konseli                :Saya di tuduh pemakai Bu.
Konseli                   :Ibu kurang jelas,bisa kamu ceritakan sama Ibu apa yang sebenarnya terjadi?
Konselor              :Persisnya begini Bu!
Konseli                  :Hari senin lalu, belum habis upacara bendera, karena saya sangat      lemas, saya pergi ke kamar mandi. Perut saya sakit sekali.
Konselor              :Ya, lalu?
Konseli                :Buk Tumorang yang kebetulan mengawasi siswa di barisan, jalan kebelakang dan menjumpai saya ada di kamar mandi. Dia langsung memeriksa saya. Di kantong saya ia temukan pil yang bentuknya bulat agak besar. Lantas dia bilang,”Siska ! kamu pasti nge-pil, ngaku”
Konselor              :Siska jawab apa?
Konseli                   :Saya jawab, “Nggak buk itu obat saya, mana mungkin saya nge-pil”. Tapi Buk Tumorang terus ngotot. Katanya,”Kalau  kamu nggak ngaku, saya lapor polisi” gitu katanya Bu.
Konselor               :Sis, kalau kamu tidak keberatan,Ibu boleh tau?. Memang obat itu obat apa? Maaf ya! Ibu tidak curiga sama kamu.Tidak! sama sekali tidak.
Konseli                 :Saya juga kurang tau Bu. Saya baru di kasih ayah tadi pagi sebelum   berangkat ke sekolah. Kata Ayah ”Sis, perut kamu kan sakit, kamu perlu obat ini. Nanti kira-kira jam 10, kamu makan ya!”. cuma itu Bu.
Konselor                :Ya,,ya, Ibu bisa mengerti, tentu masalah ini yang menjadi beban fikiran kamu. Apa benar begitu?
Konseli               :Iya Bu, saya sedih dan juga bingung.
Konselor             :Siapapun yang mengalaminya,pasti akan sama seperti kamu.
Konseli                :Iya Bu, saya harus bagaimana?
Konselor              :Boleh Ibu tahu, Ayahnya Siska kerja dimana?
Konseli                :Jangan Bu, Ayah saya jangan dipanggil. Ayah saya kerjanya di Kantor Departemen Agama. Kalau dia nanti dipanggil ke sekolah, nanti dia malu.
Konselor                 :Kamu salah sangka nak,Ibu bukan mau manggil orangtua kamu. Tapi nggak apa, dari jawaban kamu tadi Ibu sudah dapat jawabannya.
Konseli                 :Maksud Ibu?
Konselor               :Menurut Siska, dengan keberadaan orangtua kamu kerjanya di Kantor Departemen Agama, apa iya Ayah kamu diberi sesuatu yang akan mencelakakan kamu?
Konseli                    :Tentu saja tidak ya! Iya kan Bu? Tapi saya takut Bu?. Pil nya sekarang masih ada sama Buk Tumorang,saya takut nanti dia kasi tau sama guru-guru atau kawan saya di kelas.
Konselor                :Menurut Ibu,sebaiknya jangan menduga-duga dulu. Nah! sekarang menurut kamu sebaiknya bagaimana?
Konseli                  :Bagaiman kalau begini Bu? Saya telepon Ayah saya, saya ceritakan kejadiannya, supaya nanti Ayah saya yang menjelaskan sama Buk Tumorang. Saya takut, kalau makin lama nanti beritanya tersebar.
Konselor                :Kalau menurut kamu itu bisa membantu kenapa tidak?
Konseli                   :Terimakasih Bu, saya agak merasa lega, mudah-mudahan tuduhan Bu Tumorang itu tidak benar ya Bu!
Konselor               :Ibu juga berharap begitu,dan berharap masalah kamu segera bisa kamu selesaikan.
Konseli                  :Iya Bu.
Konselor                :Ibu senang sekali.Dan Ibu bangga sama Siska.
Konseli                   :Saya permisi ya Bu,dan sekali lagi terimakasih.
Konselor                :Sama-sama, Ibu juga terimakasih. Jangan segan, jika masih butuh bantuan Ibu, Ibu akan dengan senang hati membantu. (sambil mengiringi siswa keluar,menjabat erat tangan Siska) semangat!

2.      Kasus 2 (Orang Tua Cerai)

Konselor                 :(Duduk tenang diruang BK sambil membaca buku)
Konseli                      :(mengetuk pintu) Selamat pagi bu,saya boleh masuk?
Konselor                    :Selamat pagi nak,oh iya Budi…apa kabarnya pagi ini? Baik-baik saja kan? Ayo sini….(sambil menuntun siswa kearah tempat duduk,lalu) silakan duduk!
Konseli                    :Kabar baik Bu,…..tapi…..
Konselor                    :tapi…? Wah kelihatannya ada yang dipikirkan,kira-kira bisa Ibu bantu….?
Konseli                    :Begini bu….!saya lagi bingung!
Konselor                  :Bingung……?Iya..ya..coba kamu teruskan.
Konseli                       :Bagaimana tidak bingung bu,sebentar lagi saya akan menghadapi ujian UN. Sedangkan saya  tidak  pernah bisa konsentrasi untuk belajar.
Konselor                  :Tidak bisa konsentrasi belajar; iya..ya..ya. Ini tidak seperti biasanya,karena Ibu tau selama ini kamu tetap juara di kelasmu.
Konseli                    :Sekarang tidak lagi bu.
Konselor                  :Persisnya sejak kapan, apa Ibu boleh tau?
Konseli                       :Ya itu lah bu, sejak orangtua saya cerai 2 bulan lalu?
Konselor                     :Ya,,ya, Ibu bisa mengerti, tentu masalah ini yang menjadi beban fikiran kamu. Apa benar begitu?
Konseli                    :Iya bu, saya sedih dan juga bingung.
Konselor                     :Siapapun yang mengalaminya, pasti akan sama seperti kamu.
Konseli                     :Begitulah bu, jadinya belajarpun saya tidak bisa konsentrasi.
Konselor                 :Sekarang Budi tinggal sama siapa?
Konseli                   :Sekarang saya tinggal bersama Ibu.
Konselor                 :Bagaimana, Ibu sayang sama Budi?
Konseli                      :Tinggal itu lah bu,makanya saya masih bertahan. Ibu sangat menyayangi saya dan sering menasehati saya supaya rajin sekolah. Katanya rajin belajar ya nak, tinggal kamu harapan Ibu.
Konselor                     :Ibu begitu menyayangi kamu, menurut kamu, kamu harus bagaimana?
Konseli                      :Tentu saya juga harus sayang Ibu, saya tidak mau Ibu sedih.
Konselor                  :Caranya?
Konseli                    :Saya tidak tau bu, Saya harus bagaimana ya bu? saya tidak punya apa-apa yang bisa saya persembahkan untuk Ibu, dan ini yang sering membuat saya bingung dan tidak konsentrasi belajar.
Konselor                   :Tadi kalau Ibu tidak salah, Ibu ada pesan buat kamu.
Konseli                       :….??? Oh iya bu, dia pesan supaya saya rajin belajar, rajin sekolah.
Konselor                  :Iya betul..!,menurut kamu bagaimana…?
Konseli                       :Apa menurut Ibu kalau itu saya turuti, maka Ibu saya akan senang?
Konselor                 :Menurut Ibu begitu.
Konseli                   :Mungkin juga ya bu? Sebab kalau Ibu melihat saya
                                 termenung, Ibu malah semakin tampak sedih.
Konselor                 :Nah…itu dia.
Konseli                   :Maksud Ibu?
Konselor                    :Kalau ibu melihat kamu rajin belajar, bagaimana reaksi Ibu.
Konseli                    :Ibu pernah bilang, ”Ibu senang, kamu harapan Ibu”
Konselor                  :Lalu menurut kamu apa artinya?
Konseli                       :Saya mengerti bu, berarti kalau saya rajin belajar, rajin sekolah, berarti saya sudah membahagiakan Ibu. Ibu tidak meminta lebih dari itu. Saya tidak perlu memikirkan apa yang harus saya berikan pada Ibu.
Konselor                  :Tepat sekali,…Ibu setuju, lantas?
Konseli                       :Mungkin Ibu akan lebih bahagia lagi kalu saya bisa lulus UN ya bu?
Konselor                  :Kamu benar, sekarang bagaimana?
Konseli                       :Iya bu….! Saya mengerti sekarang. Saya berjanji akan rajin belajar dan rajin sekolah, dan saya akan persembahkan bukan cuma sekedar lulus UN pada Ibu tapi juga nilai terbaik.
Konselor                  :Ibu senang sekali. Dan Ibu bangga sama kamu.
Konseli                       :Bu, saya sudah lega. Saya sangat berterimaksih sama Ibu. Kalau begitu saya permisi dulu ya bu,sebentar lagi jam pelajaran Bahasa Inggris.
Konselor                   :Sama-sama,Ibu juga terimakasih. Jangan segan, jika masih butuh bantuan Ibu, Ibu akan dengan senang hati membantu. (sambil mengiringi siswa keluar) selamat pagi……….!

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1.      Layanan konseling individu merupakan bentuk layanan bimbingan dan konseling khusus antara peserta didik (klien) dengan konselor dan mendapat layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang diderita peserta didik (klien).
2.      Tujuan umum layanan konseling individu adalah terentasnya masalah yang dialami klien.
3.      Pengembangan proses layanan konseling individu oleh konselor dilandasi oleh dan sangat pengaruhi oleh suasana penerimaan, posisi duduk, dan hasil penstrukturan. Lebih lanjut, Konselor menggunakan berbagai teknik untuk mengembangkan proses konseling individu yang efektif dalam mencapai tujuan layanan.
4.      Proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah); (2) tahap inti (tahap kerja); dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan).

DAFTAR PUSTAKA
Sukardi. (1993). Proses Bimbingan dan Penyuluhan. Tabanan: Rineka Cipta.
Sukardi. (1996). Pengantar Pelaksanaan BK di Sekolah. Tabanan: Rineka Cipta.
Winkel. (1978). Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah. Jakarta: Gramedia.
Winkel. (1978). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar