Jumat, 29 November 2013

Peluang, Beberapa Asumsi Ilmu dan Batas-Batas Penjelajahan Ilmu

ONTOLOGI ILMU

A.    Peluang
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), pengertian peluang yaitu: (1) Kesempatan; (2) Ruang gerak, baik yang konkret maupun yang abstrak, yang memberikan kemungkinan bagi suatu kegiatan untuk memanfaatkannya dalam usaha mencapai tujuan. Dalam perkembangannya peluang menjadi salah satu cabang ilmu yang baru yang kemudian dikenal dengan ilmu probabilistik atau ilmu peluang. Walau termasuk ilmu yang relatif baru, ilmu ini bersama dengan statistika berkembang cukup pesat. Peluang dinyatakan dari angka 0 sampai 1. Angka 0 menyatakan bahwa suatu kejadian itu tidak mungkin terjadi. Dan angka 1 menyatakan bahwa sesuatu itu pasti terjadi. Misalnya bahwa peluang semua makhluk hidup itu akan mati dinyatakan dengan angka 1.
Hukum statistika hanya menyatakan distribusi kemungkinan atau peluang dari nilai besaran dalam kasus-kasus individual. Misalnya peluang munculnya angka tertentu dari lemparan dadu adalah 1/6. Hukum statistik tidak meramalkan apa yang akan terjadi atau apa yang pasti terjadi dalam suatu lemparan dadu. Hukum ini hanya menyatakan jika kita melempar dalam jumlah lemparan yang banyak sekali maka setiap muka dadu diharapkan untuk muncul sama seringnya.
Kita tahu bahwa untuk menjelaskan fakta dari suatu pengamatan, tidak pernah pasti secara mutlak karena masih ada kemungkinan kesalahan pengamatan. Namun di luar dari pada itu jika hal ini ditinjau dari hakikat hukum keilmuwan maka terdapat kepastian yang lebih besar lagi. Hal itu karena ilmu menyimpulkan sesuatu dengan kesimpulan probabilistik. Ilmu tidak pernah ingin dan tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak. Ilmu memberikan pengetahuan sebagai dasar untuk mengambil keputusan lewat penafsiran kesimpulan ilmiah yang bersifat relatif. Ilmu memberikan pengetahuan sebagai dasar bagi kita untuk mengambil keputusan, dimana keputusan harus berdasarkan penafsiran kesimpulan ilmiah yang bersifat relatif dengan demikian maka kata akhir dari suatu keputusan terletak di tangan kita dan bukan di teori-teori keilmuan. Oleh karena itu manusia yang mempercayai ilmu tidak akan sepenuhnya menumpukan kepercayaannya terhadap apa yang dinyatakan oleh ilmu tersebut.
Misalnya seorang ilmuwan geofisika dan meteorologi hanya bisa memberikan bahwa kepastian tidak turun hujan 0.8, atau seorang psikolog hanya bisa memberikan alternatif mengenai jalan-jalan yang bisa diambil. Keputusan apa yang akan diambil seseorang sehubungan informasi cuaca di atas atau langkah apa yang akan diambil seseorang sesuai saran psikolog tergantung masing-masing pribadi. Keputusan ada di tangan masing-masing pribadi bukan pada teori-teori keilmuwan. Maka mungkin itu yang menjadi penyebab orang yang tidak pernah mau mengambil keputusan sendiri lebih senang pergi ke dukun. Hal itu karena berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater paling-paling diberi alternatif-alternatif yang dapat diambil, sedangkan pergi ke dukun maka si dukun akan dengan pasti berkata, “Pilih jalan ini, saya jamin pasti berhasil”. Akan tetapi, seseorang yang mengenal dengan baik hakikat ilmu akan lebih mempercayai pernyataan “80% anda akan sembuh jika meminum obat ini” daripada pernyataan “yakinlah bahwa anda pasti sembuh setelah meminum obat ini”.

B.     Beberapa Asumsi Dalam Ilmu
Sudah maklum bahwa setiap manusia yang baru dilahirkan tidak langsung besar dan pandai, sewaktu kita kecil tentunya akan beranggapan bahwa segalanya kelihatan besar, pohon terasa begitu tinggi, orang-orang terlihat seperti raksasa, saat kita duduk di Sekolah Dasar dulu menganggap sangat luar biasa akan kemampuan guru-guru Sekolah Dasar di saat itu. Anggapan, dugaan asumsi atau pandangan yang dilontarkan anak kecil itu menurut kita orang dewasa seperti biasa saja, memang pandangan itu akan berubah setelah kita beranjak dewasa. Dunia yang besar ternyata tidak sebesar apa yang kita kira, hal ini terutama dengan ditopang oleh kemajuan wawasan, informasi dan teknologi, sehingga segalanya seolah menjadi menciut, bumi yang luas tadi seperti seluas daun kelor.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, asumsi memiliki arti: (1) dugaan yang diterima sebagai dasar; (2) landasan berpikir karena dianggap benar. Dalam ilmu filsafat, asumsi merupakan pernyataan yang kebenarannya dapat diuji secara empiris. Jujun Suriasumantri berpendapat bahwa (2010: 89), dalam menggabungkan asumsi ini maka harus diperhatikan beberapa hal, yakni:
1.      Asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Asumsi ini harus operasional dan merupakan dasar dari pengkajian teoritis. Asumsi bahwa manusia dalam administrasi adalah “manusia administrasi” kedengarannya memang filsafati namun tidak mempunyai arti apapun dalam penyusunan teori-teori administrasi. Asumsi manusia dalam administrasi yang bersifat operasional adalah makhluk ekonomis, makhluk sosial, makhluk aktualisasi diri atau makhluk yang kompleks. Berdasarkan asumsi-asumsi ini maka dapat dikembangkan berbagai model, strategi, dan praktik administrasi. Asumsi bahwa manusia adalah mahkluk administrasi, dalam pengkajian administrasi, akan menyebabkan kita berhenti di situ, seperti sebuah lingkaran setelah berputar-putar kita kembali ke tempat semula, jadi ke situ juga ujungnya.
2.      Asumsi ini harus disimpulkan dari “keadaan sebagai mana adanya”, bukan “bagaimana keadaan yang seharusnya”. Jadi asumsi harus bersifat das sein bukan das sollen. Asumsi harus bercirikan positif, bukan normatif.
Asumsi pertama adalah asumsi yang mendasari telaah imiah. Sedangkan asumsi kedua adalah asumsi yang mendasari telaah moral. Sekiranya dalam kegiatan ekonomis maka manusia yang berperan adalah manusia yang “yang mencari keuntungan sebesar besarnya dengan menghindari kerugian sekecil-kecilnya” maka itu saja yang kita jadikan sebagai pegangan tidak usah ditambah dengan sebaiknya begini, atau seharusnya begitu. Sekiranya asumsi semacam ini dipakai dalam penyusunan kebijaksanaan (policy), atau strategi, serta penjabaran peraturan lainnya, maka hal ini bisa saja dilakukan, asalkan semua itu membantu kita dalam menganalisis permasalahan.
Sering kita jumpai bahwa asumsi yang melandasi suatu kajian keilmuan tidak bersifat tersurat melainkan tersirat. Asumsi yang tersirat ini kadang-kadang menyesatkan, sebab selalu terdapat kemungkinan bahwa kita berbeda penafsiran tentang sesuatu yang tidak dinyatakan, oleh karena itu maka untuk pengkajian ilmiah yang lugas lebih baik dipergunakan asumsi yang tegas. Sesuatu yang belum tersurat dianggap belum diketahui atau belum mendapat kesamaan pendapat. Pernyataan semacam ini jelas tidak akan ada ruginya, sebab sekiranya kemudian ternyata asumsinya adalah cocok maka kita tinggal memberikan informasi, sedangkan jika ternyata mempunyai asumsi yang berbeda maka dapat diusahakan pemecahannya.
Berikut ini adalah beberapa asumsi dalam ilmu pengetahuan:
1.      Asumsi dalam Ilmu Alam
Fisika merupakan ilmu teoritis yang dibangun di atas sistem penalaran deduktif yang meyakinkan serta pembuktian induktif yang sangat mengesankan. Namun sering dilupakan orang bahwa fisika pun belum merupakan suatu konsep yang utuh. Artinya fisika belum merupakan pengetahuan ilmiah yang tersusun secara sistemik, sistematik, konsisten, dan analitik berdasarkan pernyataan-pernyataan ilmiah yang disepakati bersama. Di mana terdapat celah-celah perbedaan dalam fisika. Perbedaannya justru terletak dalam fondasi di mana dibangun teori ilmiah di atasnya yakni dalam asumsi tentang dunia fisiknya. Dalam analisis secara mekanistik maka terdapat empat komponen analisis utama yakni zat, gerak, ruang, dan waktu. Newton dalam bukunya Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686) berasumsi bahwa keempat komponen ini bersifat absolut. Zat bersifat absolut, dengan demikian berbeda secara substantif dengan energi. Einstein, berlainan dengan Newton, dalam The Special Theory of Relativity (1905) berasumsi bahwa keempat komponen itu bersifat relatif. Tidak mungkin kita mengukur gerak secara absolut, kata Einstein. Bahkan zat sendiri itu pun tidak mutlak, hanya bentuk lain dari energi, dengan rumus yang termasyhur: E=mc2.
Pada awalnya kausalitas dalam ilmu-ilmu alam menggunakan asumsi determinisme. Namun asumsi ini goyang ketika Max Planck pada tahun 1900 menemukan teori Quantum. Teori ini menyatakan bahwa radiasi yang dikeluarkan materi tidak berlangsung secara konstan namun terpisah-pisah yang dinamakan kuanta. Fisika quantum menunjukkan adanya partikel-partikel yang melanggar logika hukum fisika dan bergerak secara tak terduga.
Selanjutnya indeterministik dalam gejala fisik ini muncul dengan pemenuhan Niels Bohr dalam Prinsip Komplementer (Principle of Complementary) yang dipublikasikan pada tahun 1913. Prinsip komplementer ini menyatakan bahwa elektron bisa berupa gelombang cahaya dan bisa juga berupa partikel tergantung dari konteksnya. Masalah ini yang menggoyahkan sendi-sendi fisika ditambah lagi dengan penemuan Prinsip Indeterministik (Principle of Indeterminancy) oleh Werner Heisenberg pada tahun 1927. Heisenberg menyatakan bahwa untuk pasangan besaran tertentu yang disebut conjugate magnitude pada prinsipnya tidak mungkin mengukur kedua besaran tersebut pada waktu yang sama dengan ketelitian yang tinggi. Prinsip Indeterministik ini, papar William Barret, menunjukkan bahwa terdapat limit dalam kemampuan manusia untuk mengetahui dan meramalkan gejala-gejala fisik.
2.      Asumsi ilmu-ilmu sosial
            Masalah asumsi ini menjadi lebih rumit lagi kalau kita berbicara tentang ilmu ilmu sosial seperti tercermin dalam anekdot di bawah ini:
Manusia yang neurotik adalah mereka yang membangun rumah di atas awan
Manusia yang psikotik adalah mereka yang tinggal di dalamnya
Manusia yang psikiater adalah mereka yang menagih sewanya
Siapa manusia itu? jawabnya tergantung pada situasinya: dalam kegiatan ekonomis maka dia makhluk ekonomi, dalam politik maka dia political animal, dalam pendidikan maka dia homo educandum. Ilmu-ilmu ini bersifat otonom dalam bidang pengkajiannya masing-masing dan “berfederasi” dalam satu pendekatan multidisipliner (jadi bukan “Fusi” dengan penggabungan asumsi yang kacau balau).
Dalam ilmu psikologi juga memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang manusia. Setiap aliran memiliki pandangan yang berbeda tentang apa itu manusia. Aliran behaviorisme misalnya, menganalisa jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif. Behaviorisme hanya menganalisa perilaku yang nampak saja yang dapat diukur dilukiskan dan diramalkan. Berbeda dengan behaviorisme, psikoanalisa memandang manusia sebagai makhluk yang lebih dikuasai oleh alam bawah sadarnya. Menurut aliran ini, perilaku manusia dianggap sebagai hasil interaksi sub sistem dalam kepribadian manusia yaitu id, ego dan super ego. Sedangkan aliran humanistik, memandang manusia berdasarkan kebutuhan (needs) untuk mengaktualisasikan dirinya, serta memiliki pandangan bahwa manusia bukanlah sekedar pelakon tetapi pencari makna kehidupan.
Dan kotak-kotak manusia makin lama makin banyak dan makin sempit seperti dikatakan Faridudin Attar :
Dan kita membuat peti
Di dalam peti ini…
Apakah kita perlu membuat kotak-kotak ini dan memberikan pembatasan dalam bentuk asumsi yang kian sempit? jawabannya adalah sederhana sekali, sekiranya ilmu ingin mendapatkan pengetahuan yang bersifat analitis, yang mampu menjelaskan berbagai kaitan dalam gejala yang tertangguk dalam pengalaman manusia, maka pembatasan ini adalah perlu.
Setiap ilmu selalu memerlukan asumsi. Asumsi diperlukan untuk mengatasi penelaahan suatu permasalahan menjadi lebar. Semakin terfokus obyek telaah suatu bidang kajian, semakin memerlukan asumsi yang lebih banyak.
Asumsi dapat dikatakan merupakan latar belakang intelektual suatu jalur pemikiran. Asumsi dapat diartikan pula sebagai merupakan gagasan primitif, atau gagasan tanpa penumpu yang diperlukan untuk menumpu gagasan lain yang akan muncul kemudian. Asumsi diperlukan untuk menyuratkan segala hal yang tersirat. Mc. Mullin menyatakan hal yang mendasar yang harus ada dalam ontologi suatu ilmu pengetahuan adalah menentukan asumsi pokok (the standard presumption) keberadaan suatu obyek sebelum melakukan penelitian.

C.    Batas-Batas Penjelajahan Ilmu
Pada saat ilmu mulai berkembang pada tahap ontologis, manusia mulai mengambil jarak dari obyek sekitar. Manusia mulai memberikan batas-batas yang jelas kepada obyek tertentu yang terpisah dengan eksistensi manusia sebagai subyek yang mengamati dan yang menelaah obyek tersebut. Dalam menghadapi masalah tertentu, dalam tahap ontologis manusia mulai menentukan batas-batas eksistensi masalah tersebut, yang memungkinkan manusia mengenal wujud masalah itu, untuk kemudian menelaah dan mencari pemecahan jawabannya.
Dalam usaha untuk memecahkan masalah tersebut, ilmu mencari penjelasan mengenai permasalahan yang dihadapinya agar dapat mengerti hakikat permasalahan yang dihadapi itu. Dalam hal ini ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapi adalah masalah yang bersifat konkret yang terdapat dalam dunia nyata.
Secara ontologis, ilmu membatasi masalah yang dikajinya hanya pada masalah yang terdapat pada ruang jangkauan pengalaman manusia. Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Pembatasan ini disebabkan karena fungsi ilmu itu sendiri dalam kehidupan manusia yakni sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Persoalan mengenai hari kemudian tidak akan kita tanyakan kepada ilmu, melainkan kepada agama. Jadi ilmu tidak mempelajari masalah surga dan neraka dan juga tidak mempelajari sebab musabab kejadian terjadinya manusia, sebab kejadian itu berada di luar jangkauan pengalaman manusia.
Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia yang juga disebabkan pada metode yang dipergunakan dalam menyusun materi uji kebenarannya secara empiris. Sekiranya ilmu memasukkan daerah di luar batas pengalaman empirisnya, maka itu akan membuat suatu kontradiksi yang akan menghilangkan kesahihan metode ilmiah.
Ilmu hanya berwenang dalam menentukan benar atau salahnya suatu pernyataan. Tentang baik dan buruk, semua berpaling kepada sumber-sumber moral, tentang indah dan jelek semua berpaling kepada pengkajian estetik. Ruang penjelajahan keilmuan kemudian  di‘kapling-kapling’kan dalam berbagai displin keilmuan. Kapling ini makin lama makin sempit sesuai dengan perkembangan kuantitatif displin keilmuan. Kalau pada fase permualaan hanya terdapat ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial maka sekarang ini terdapat lebih dari 650 cabang keilmuan. Ilmu murni merupakan kumpulan teori-teori ilmiah yang bersifat dasar dan teoritis yang belum dikaitkan dengan masalah kehidupan yang bersifat praktis. Ilmu terapan merupakan aplikasi ilmu murni kepada masalah-masalah kehidupan yang mempunyai manfaat praktis.
Ruang penjelajahan keilmuan kemudian menjadi cabang-cabang ilmu. Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian berkembang menjadi rumpun ilmu-ilmu alam dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang ilmu-ilmu sosial. Ilmu-ilmu alam dibagi lagi menjadi ilmu alam dan ilmu hayat. Ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam semesta sedangkan ilmu alam kemudian bercabang lagi menjadi fisika (mempelajari massa dan energi), kimia (mempelajari substansi zat), astronomi (mempelajari benda-benda langit), dan ilmu bumi.Tiap-tiap cabang kemudian membuat ranting-ranting baru seperti fisika berkembang menjadi mekanika, hidrodinamika, bunyi, cahaya, panas, kelistrikan dan magnetism, fisika nuklir dan kimia fisik. Sampai tahap ini maka kelompok ilmu tersebut masih termasuk dalam ilmu-ilmu murni. Ilmu-ilmu murni kemudian berkembang menjadi ilmu-ilmu terapan, seperti contoh dibawah ini:
ILMU MURNI
ILMU TERAPAN
Mekanika
Mekanika Teknik
Hidrodinamika
Teknik Aeronautikal/Teknik & Desain Kapal
Bunyi
Teknik Akustik
Cahaya dan Optik
Teknik Iluminasi
Kelistrikan/Magnetisme
Teknik Elektro/Teknik Kelistrikan
Fisika Nuklir
Teknik Nuklir

Ilmu sosial berkembang agak lambat dibandingkan dengan ilmu alam. Cabang utama ilmu-ilmu sosial yakni antropologi (mempelajari manusia dalam perspektif waktu dan tempat), psikologi (mempelajari proses mental dan kelakuan manusia), ekonomi (mempelajari manusia dalam memenuhi kebutuhannya lewat proses pertukaran), sosiologi (mempelajari struktur organisasi sosial manusia) dan ilmu politik (mempelajari sistem dan proses dalam kehidupan manusia berpemerintahan dan bernegara).
Cabang utama ilmu-ilmu sosial yang lainnya mempunyai cabang-cabang lagi seperti antropologi terpecah menjadi lima yakni, arkeologi, antropologi fisik, linguistik, etnologi dan antropologi sosial/kultural, semua itu kita golongkan ke dalam ilmu murni meskipun tidak sepenuhnya. Contoh lain misalnya ilmu psikologi yang juga terbagi menjadi beberapa cabang. Pembagian ini terjadi dengan tujuan agar dicapainya pemahaman yang lebih baik ketika psikologi dipelajari dan diterapkan dalam cabang ilmu lain. Pembagian tersebut meliputi:
1.      Clinical Psychology: fokus dari cabang ilmu ini adalah penilaian dan perawatan yang tepat terhadap penyakit mental dan perilaku abnormal.
2.      Developmental Psychology: cabang ilmu ini terfokus terhadap perkembangan manusia semenjak lahir hingga mati. Perhatian juga difokuskan terhadap hal-hal yang berubah, tetap, ataupun yang memburuk. Juga fokusnya termasuk terhadap perkembangan dan perubahan yang berlanjut, atau yang berkaitan dengan umur dan tingkat hidup manusia.
3.      Educational Psychology: cabang ilmu ini terfokus pada belajar, mengingat, mempertunjukkan, dan mendapatkan ilmu. Educational psychology juga termasuk efek-efek dari perbedaan individu, pelajar berbakat, dan ketidakmampuan dalam belajar.
4.      Industrial-Organizational Psychology: cabang ilmu ini melingkupi psikologi teoritis terhadap tempat kerja. Tujuan dari cabang ilmu ini adalah peningkatan kepuasaan, performa, produktifitas dan kesesuaian posisi dengan ketrampilan pekerja. Keterkaitannya yang lainnya juga termasuk dinamika kelompok, dan perkembangan dari kemampuan memimpin.
5.      Social Psychology: Cabang ilmu ini meliputi penelitian terhadap tingkah laku grup, norma sosial, kecocokan, prasangka, perilaku nonverbal / bahasa tubuh, dan perilaku kasar manusia.
6.      Abnormal Psychology: cabang ilmu psikologi ini menggali lebih jauh tentang penyakit kejiwaan dan perilaku abnormal, seperti: depresi, OCD, perilaku seks menyimpang dan perilaku menyendiri.
7.      Biopsychology: cabang ilmu ini mempelajari tentang fungsi otak dan syaraf dalam pengaruhnya terhadap perasaan dan perilaku. Biopsychology menggabungkan neuroscience dan ilmu dasar psikologi.
8.      Cognitive Psychology: cabang ilmu ini terfokus pada persepsi dan proses mental. Contohnya adalah: fokus pada “bagaimana orang berpikir dan memproses pengalaman dan kejadian tertentu, termasuk di dalamnya refleks dan dasar kepercayaannya”. Juga didalamnya termasuk “bagaimana mereka belajar, menghapal, dan mengingat kembali sebuah informasi”.
9.      Comparative Psychology: cabang ilmu ini mempelajari tentang perilaku hewan. Comparative psychology sangat berkaitan erat dengan biologists, ecologists, anthropologists, dan geneticists.
10.  Counselling Psychology: dalam cabang ilmu ini, fokusnya adalah penyediaan terapi intervensi kepada klien yang sedang berjuang dengan masalah mental, sosial, dan perilaku. Counselling psychology juga memperhatikan cara-cara hidup yang baik, dengan tujuan agar orang mampu mencapai potensi maksimal mereka dalam hidupnya.
11.  Experimental Psychology: walaupun psikologi menekankan pada pentingnya metode ilmiah, pelaksanaan proses pendesainan, dan pengimplementasian dari teknik-teknik ekperimental, dan kemudian menganalisa dan menginterpretasi hasil merupakan tugas utama dari eksperimental psikolog. Psikologi ini bekerja dalam ruang lingkup dan latar belakang yang luas, termasuk sekolah, kampus, universitas, laboratorium, organisasi pemerintah, dan bisnis pribadi.
12.  Forensic Psychology: psikologi dan hukum bersinggungan pada cabang ilmu ini. Ini merupakan cabang ilmu yang para psikolog (semisal psikolog klinis, ahli syaraf, psikolog konseling, dan lain-lain) berbagi kepintaran profesionalnya dalam kasus legal maupun kriminal.
13.  Health Psychology: cabang ilmu ini menganjurkan kesehatan  fisik, mental, dan emosional, termasuk strategi pencegahan dan pengobatan. Cabang ilmu ini terfokus terhadap bagaimana orang berhadapan dengan stress, dan mengatasi dan memulihkan diri dari penyakit.
14.  Human Factors Psychology: cabang ilmu memayungi berbagai kategori, yang meliputi ergonomi, keselamatan tempat kerja, kesalahan manusia, desain produk, dan interaksi-interaksi antara mesin.
15.  Sports Psychology: cabang ilmu ini menyelidiki tentang bagaimana meningkatkan dan mempertahankan motivasi, faktor yang berperan dalam puncak perfoma, dan bagaimana menjadi aktif dapat meningkatkan taraf hidup kita.
Banyak sekali konsep ilmu-ilmu sosial “murni” dapat diterapkan langsung kepada kehidupan praktis, ekonomi umpamanya, meminjam perkataan Paul Samuelson, merupakan ilmu yang beruntung (Fortunate) karena dapat diterapkan langsung kepada kebijaksanaan umum (public policy).
Di samping ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, pengetahuan mencakup juga humaniora dan matematika. Humaniora terdiri dari seni, filsafat, agama, bahasa dan sejarah. Matematika bukan merupakan ilmu, melainkan cara berpikir deduktif. Matematika merupakan sarana yang penting dalam kegiatan berbagai disiplin keilmuan, mencakup antara lain, geometri, teori bilangan, aljabar, trigonometri, geometri analitik, persamaan diferensial, kalkulus, topologi, geometri non-Euclid, teori fungsi, probabilitas dan statistika, logika dan logika matematika.

D.    Kesimpulan
1.      Pengertian peluang yaitu: (1) Kesempatan; (2) Ruang gerak, baik yang konkret maupun yang abstrak, yang memberikan kemungkinan bagi suatu kegiatan untuk memanfaatkannya dalam usaha mencapai tujuan.
2.      Peluang dinyatakan dari angka 0 sampai 1. Angka 0 menyatakan bahwa suatu kejadian itu tidak mungkin terjadi. Dan angka 1 menyatakan bahwa sesuatu itu pasti terjadi.
3.      Ilmu-ilmu bersifat otonom dalam bidang pengkajiannya masing-masing dan “berfederasi” dalam suatu pendekatan multidisipliner. (jadi bukan “fusi” dengan penggabungan asumsi yang kacau balau).
4.      Dalam mengembangkan asumsi ini, maka harus diperhatikan beberapa hal:
a.       Asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Asumsi ini harus operasional dan merupakan dasar dari pengkajian teoritis.
b.      Asumsi ini harus disimpulkan dari “keadaan sebagaimana adanya” bukan “bagaimana keadaan yang seharusnya”.
5.      Ilmu membatasi masalah yang dikajinya hanya pada masalah yang terdapat pada ruang jangkauan pengalaman manusia. Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia.



DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan. (2007). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Anonim. (2012). What are the Different Branches of Psychology?. November 13, 2012. http://onlinecounsellingcollege.tumblr.com/post/35658095116/what-are-the-different-branches-of-psychology
Kattsoff, Louis O. (1995). Pengantar Filsafat, penerjemah Seojono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana

Suriasumantri, Jujun S, (1998) . Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popular. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar