Senin, 28 November 2011

KECERDASAN DAN BAHASA

INTELEGENSI
Intelegensi merupakan konsep yang bisa dilihat sebagai penyatu semua teori dan riset psikologi kognitif.  Inteligensi menurut 14 psikolog pada tahun 1921, pertama, inteligensi memelibatkan kemampuan seseorang untuk belajar dari pengalaman. Kedua, inteligensi melibatkan kemampuan seseorang untuk bradaptasi dengan lingkungan disekitarnya. Enam puluh lima tahun kemudian 24 psikolog kognitif yang ahli dan aktif di dalam riset-riset inteligensi, mereka juga menekankan pentingnya pembelajaran dari pengalaman dan adaptasi terhadap lingkungan. Mereka juga meluaskan definisi ini dengan mnekankan pentingnya metakognisi, yaitu upaya manusia memahami dan mengontrol proses-proses berpikirnya sendiri. Para ahli kontemporer juga banyak menitikberatkan pada peran budaya. Ringkasnya, inteligensi atau kecerdasan adalah kapasitas untuk belajar dari pengalaman dengan menggnakan proses metakognitif dalam upayanya meningkatkan pembelajaran, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Inteligensi mensyaratkan kemampuan adaptasi yang bebeda di dalam konteks-konteks sosial dan budaya yang berbeda.

Di dalam teori-teori implisit mengenai inteligensi, kita juga mengakui bahwa inteligensi juga memiliki makna yang berbeda di dalam konteks yang berbeda. Teori-teori yang implisit mengenai inteligensi mungkin berbeda dari satu budaya ke budaya lain. Seperti contoh; orang-orang Cina di Taiwan memasukkan keahlian menjalin hubungan interpersonal dan intrapersonal sebagai bagian dari konsep inteligensi (Yang & Stenberg, 1997). Sedangkan konsep orang-orang Kenya pedesaan mengenai inteligensi memasukkan kepekaan moral sebagai hal yang setara dengan kemampuan kognitif (Grigorenko dkk, 2001). Oleh karena itu, apa yang dianggap sebagai penilaian yang komprehensif mengensi inteligensi bisa berbeda dari satu budaya ke budaya lain (Stenberg & Kaufman, 1998).
Bahkan dewasa ini di Amerika Serikat, banyak orang melihat kecerdasan emosi sebagi aspek inteligensi, jadi tidak hanya kecerdasan kognitif. Kecerdasan Emosi, adalah kemampuan untuk menyerap dan mengekspresiakn emosi, kemampuan untuk mengasimilasikan emosi dengan pikiran, pemahaman  dan rasio, dan kemampuan untuk mengatur emosi dalam diri sendiri dan orang lain (Mayer, Salovey & Caruso, 2000, hlm.396). Selain itu, konsep kecerdasan emosi sudah menjadi populer beberapa tahun belakangan (Goleman, 1995, 1998). Konsep lain yang terkait dengan kecerdasan emosi adalah kecerdasan sosial, yaitu kemempuan memahami dan berinteraksi dengan orang lain (Kihlstrom & Cantor, 2000). Riset juga menunjukkan bahwa variabel-variabel kepribadian berkaitan erat dengan inteligensi (Ackerman, 1996).
Sedangkan definisi-definisi yang eksplisit inteligensi sering kali berorientasi pada penilaian. Artinya, beberapa psikolog lebih suka mendefinisikan inteligensi berdasarkan apa pun hasil ukuran tes (Boring, 1923). Definisi tersebut seperti lingkaran setan, menurut mereka hakikat inteligensi adalah apa yang dihasilkan dari tes-tes, padahal hal-hal yang hendak diberikan dalam tes harus ditentukan oleh hakikat inteligensi. Selain itu, hasil dari tes-tes inteligensi yang berbeda-beda tidak selalu menunjukkan satu hal yang sama karena tes-tes yang berbeda dibuat untuk konstruk yang berbeda-beda. 
a.      Ukuran-Ukuran dan Struktur-Struktur Inteligensi
            Ukuran-ukuran kontemporer mengenai inteligensi biasanya dapat dilacak dari dua tradisi historis yang berbeda. Salah satu tradisi itu berkonsentrasi pada proses-proses di tingkatan dasar, yaitu kemampuan-kemampuan psikofisik. Ukuran-ukuran ini mencakup ketajaman penyerapan indra, kekuatan fisik, dan koordinasi motorik. Tradisi yang lain berfokus pada proses-proses di tingkatan yang lebih tinggi, yaitu kemampuan-kemampuan dalam membuat penilaian. Francis Galton (1822-1911) yakin bahwa inteligensi adalah fungsi dari kemampuan-kemampuan psikofisisk, sedangkan menurt Binet, kemampuan membuat penilaian adalah kunci utama inteligensi, bukannya kepekaan, kekuatan atau keahlian psikofisik.
            Bagi Binet (Binet & Simon, 1916), pikiran yanng cerdas (penilaian mental) memadukan tiga elemen yang berbeda, yaitu: arah, adaptasi, dan kekritisan. Arah melibatkan pengetahuan apa yaang harus dilakuakan dan bagaimana melakuaknnya. Adaptasi mengacu kepada pembiasan sebuah strategi mengerjakan suatu tgas tertentu untuk kemudian memonitor strategi tersebut serta mengimplementasikannya, dan kekritisan adalah kemampuan mengkritisi pikiran dan tindakan kita sendiri. Penitikberatan terhadap arah dan adaptasi cocok dengan pandangan dasar mengenai inteligensi, sedangkan konsep Binet tentang kekritisan lebih bersifat antisipatif, yang mencakup penghargaan terhadap proses-proses metakogniitif yang menjadi aspek kontemporer esensial bagi inteligensi.
            Ketika mengembangkan tes awal inteligensi, Binet dan Simon tetarik pada pembandingan inteligensi anak usia tertantu dengan anak lain di usia kronologis (fisik) yang sama. Untuk tujuan ini kemudian mereka berusaha menentukan usia mental setiap anak, yaitu tingkatan inteligensi pada usia tertentu. Usia mental bekerja efektif jik dipakai untuk membandingkan kecerdasan seorang anak yang satu dengan anak yang lain yang mempunyai usia kronologi yang sama, namun tidak efektif jika dipakai untuk membandingkan kecerdasan relatif anak-anak dengan usia kronologis yang berbeda. Dari sinilah William Stern (1912) menyatakan bahwa kita bisa mengevaluasi kecerdasan sesorang dengan menggunakan:
IQ=(MA/CA)  (100)

Keterangan :      IQ (intelligence Quotient)
                          MA (mental age)
                          CA (chronogical age)
Dengan demikian, jika usia mental sama dengan usia kronologis maka seorang anak akan memiliki inteligensi rata-rata dengan IQ 100. Namun ketika usia mental lebih besra dari usia kronologis, rasio akan mengarah pada skor IQ di atas 100, dan ketika usia kronologis melebihi usia mental, maka rasio akan mengarah pada skor di bawah IQ 100.
Lewis Ternan dari  Universitas Stanford meneruskan pekerjaan yang dirintis Binet dan Simon di Eropa dan membentuk versi paling awal dari apa yang disebut skala inteligensi Binet-Stanford. Selama bertahun-tahun tes Binet-Stanford menjadi standar bagi tes-tes inteligensi dan masih terus digunakan secara luas sampai sekarang. Namun skala Wechsler, saingnnya yang dinamai menurut penemumya David Wechsler, tampaknya lebih banyak digunakan. Tes-tes Inteligensi Wechsler mengandung tiga penilaian, yaitu skor verbal, skor performa, dan skor menyeluruh. Penilaian verbal didasarkan pada tes-tes kemiripan kosakata-kosakata dan kemiripan kata-kata kerja. Skor performa didasarkan pada beberapa tes. Pertama, melengkapi gambar, yaitu mengidentifikasi bagian yang hilang dari sebuah gambar tentang objek tertentu. Kedua, menyusun gambar, yaitu penyusunan ulang gambar ilustrasi yang acak menjadi satu urutan benar yang mengisahkan sebuah cerita. Sementara itu penilaian menyeluruh adalah kombinasi dari penilaian verbal dan performa.
Seperti Binet, Weschler memiliki sebuah konsep inteligensi yang berjalan melampaui apa yang diukur tesnya sendiri. Wechsler jelas-jelas yakin tentang betapa bernilaiya sebuah upaya pengukuran inteligensi. Namun, dia tidak membatasi konsep inteligensinya kepada skor tes. Weschler yakin kalau inteligensi menjadi pusat dalam kehidupan sehari-hari manusia, namun inteligensi tidak hanya dipresentasikan hanya oleh skor tes atau bahkan apa yang kita lakukan di sekolah. Kita juga menggunakan inteligensi untuk menjalin relasi dengan orang lain, dalam melakuakn performa kerja secara efektif, dan dalam mengatur hidup kita sehari-hari.
Para psikolog yang tertarik pada struktur inteligensi banyak mengandalkan anliasis faktor sebagain piranti terbaik untuk riset mereka. Analisis faktor adalah sebuah metode statistik bagi pemilahan sebuah konstruk, dalam kasus ini inteligensi menjadi sejumlah faktor hipotesis atau kemampuan, yang diyakini membentuk dasar perbedaan individudalam mengerjakan tes-tes. Analisis faktor didasarkan pada studi-stdi tentang korelasi. Ide intinya adalah semakin tinggi korelasi dua tes, semakin besar persamaan keduanya mengukur satu hal yang sama. Dalam riset Inteligensi analisis faktor dapat diaplikasiakan dalam langkah-langkah berikut. Pertama, beriikan pada partisipan sejumlah tes kemampuan. Kedua, menentukan korelasi di antara tes-tes tersebut. Ketiga, analisis korelasi untuk menyederhanakan sejumlah kecil faktoe-faktor yang digunakan ntuk menyimpulkan performa dalam tes-tes tersebut. Para peneliti di daerah ini umumnya setuju mengikuti langkah-langkah tersebut, namun konsep tentang inteligensi berbeda-beda di antara para teoritis.
Spearman : Faktor ‘g’
Charles Spearman (1863-1945) dikenang karena menemukan analisis-faktor (Spearman, 1927). Dengan mngguakan studi-studi analisis faktor Spearman menyimpulkan bahwa inteligensi bisa dimengerti berdasarkan dua jenis faktor, yaitu faktor umum tunggal dan faktor spesifik-spesifik yang lain.
Thurstone : Kemampuan mental primer
Inteligensi terletak bukan pada faktor tunggal melainkan dalam tujuh faktor, yaitu:
1.    Pemahaman verbal
2.    Penguasaan verbal,
3.    Penalaran induktif,
4.    Visualisasi spasial,
5.    Operasi angka dan digit,
6.    Memori.
7.    Kecepatan mempersepsi.
Guilford : Struktur Intelektual (SOI)
Menurut Guilford, inteligensi bisa dipahami dalam ilustrasi sebuah kubus yang merepresentasiakan perpotongan tiga dimensi. Dimnsi-dimensi ini adalah operasi. Isi, dan produk. Menurut guilford, operasi-operasi esensinya berupa proses-proses mengingat dan mengevaluasi. Evaluasi melibatkan penilaian. Isi-isi adalah jenis term-term yang muncul di sebuah masalah. Dan produk-produk adalah jenis-jenis respon yang dibutuhkan.


Cattel, Vernon dan Carroll : Model-model Hierarkis
Sebuah cara yang lebih lugas dalam menangani jumlah faktor-faktor inteligensi adalah melalui model hierarkis. Model ini menyatakan bahwa model ini menyatakan bahwa inteligensi umumnya mengandug dua sub-faktor utama, yaitu kemampuan cair dan kemampuan terkristal. Kemampuan cair adalah kecepatan dan akurasi penalaran abstrak. Sedangkan kemampuan terkristal adalah pengetahuan dan kosakata yang terakumukasi untuk sejumlah waktu, tersimpan dalam memori jangka panjang dan dipanggil keluar ketika dibuthkan (Cattel, 1971). Yang tercakup dalam dua subfaktor utama ini adalah faktor-faktor lain yang lebih spesifik, umumnya terbagi menjadi kemampuan mekanispraktis dan oendidikan verbal (Vernon, 1971). Model yang lebih baru adalah sebuah hierarki yang mengandung tiga strata (Carroll, 1993). Stratum I mencakup banyak kemampuan spesifik yang sempit, stratum II mencakup berbagai kemampuan yang luas, dan stratum III hanyalah sebuah inteligensi umum tunggal. 
            Sebagai tambahan bagi inteligensi-cair dan inteligeni-terkristal, Carroll memasukkan ke dalam stratum tengah sejumlah kemmapuan lianj, yaitu proses-proses belajar dan mengingat, persepsi visual, persepsi audiotaris, produksi ide-ide yang fasih (mirip kemahiran verbal), dan kecepatan (mencakup kecepatan merespon hal-hal besar secara akurat).
b.      Pemrosesan Informasi dan Inteligensi
Para teoretisis pemrosesan-informasi tertarik  untuk mempelajari bagaimana manusia secara mental memanipulasi apa yang mereka pelajari dan ketahui tentang dunia (Hunt, 2005).Cara-cara mempelajari inteligensi berbeda-beda, utamanya dalam hal kompleksitas proses-prosesnya (Stankov, 2005). Para peneliti menganggap kecepatan maupun akurasi  pemrosesan-informasi sebagai dua faktor yang penting dalam inteligensi.
Teori Waktu-pemrosesan 
            Waktu inspeksi adalah jumlah waktu yang diperlkan untuk menginspeksi item-item dan membuat sebuah putusan tentang mereka. Waktu diukur lewat paradigma eksperimentalistik yang disebut waktu penginsprksian (Nettelbeck, 1987; Nettelbeck & Lally, 1976; Nettelbeck & Rabbitt, 1992; lihat juga Deary, 2000; Deary & Stough, 1996; Neubauer & Fink, 2005). Nettelbeck mendefinisikan waktu inspeksi secara operasional, yaitu panjang waktu pemrosesan stimulus target dimana sesudahnya partisipan harus merespon dengan akurasi minimal 90 % untuk men8njuk sisi sebelah mana garis pendek berada. Dia menemukan bahwa waktu yang inspeksi yang lebih pendek berkorelasi dengan skor tinggi tes inteligensi.
Waktu reaksi pilihan
Beberapa peneliti mengusulkan bahwa inteligensi bisa dipahami  berdasarkan kecepatan konduksi-saraf (Jensen, 1979, 1998). Dengan kata lain, pribadi yang pintar adalah seseorang yang sirkuit-sirkuit sel sarafnya menghubungkan informasi dengan cepat. Pendekatan utama untuk mengukur kecepatan pemrosesan sel saraf dengan menggunakan waktu reaksi pilihan, yaitu waktu yang diperlukan untuk memilih satu jawaban dari kemungkinan yang ada.
Kecepatan Mengakses Kosakata dan Keceoatan Pemrosesan Simultan
Beberapa penelitian memfokuskan perhatian pada mengakses kosakata yaitu kecepatan dimana kita bisa mengeluarkan informasi tentang kata-kata (seperti nama huruf) yang tersimpan dalam memori jangka panjang (Hunt, 1978).  Kecepatan ini dapat diukur lewat tugas waktu reaksi pencocokan huruf yang pertama kali diusulkan di tahun 1967 oleh Ponser dan Mitchell (Hunt, 1978).
Inteligensi juga berkaitan dengan kemampuan manusia membagi-bagi atensi (Hunt & Lansman, 1982). Selain itu, teori-teori waktu pemrosesan berusaha memahami perbedaan di antara inteligensi-inteligensi partisipan dengan mengamati perbedaan di dalam kecepatan mlakukan berbagai bentuk pemrosesan informasi. Waktu penginspeksian, waktu reaksi pilihan dan waktu pengaksesan kosakata semuanya terbukti berkorelasi tinngi denghan ukuran-ukuan inteligensi. Artinya, temuan ini menyatakan apabila inteligensi yang lebih tinggi rata-rata berkaitan dengan kecepatan dari berbagai kemampuan memproses informasi. Semakin cerdas seseorang, semakin cepat dia mengkodekan i nformasi di dalam memori aktifnya. Mereka mengakses informasi dalam memori jangka-panjang lebih cepat. Dan mereka merespon lebih cepat juga.
Memori-yang-Sedang-Bekerja  
Penelitian tebaru menyatakan bahwa salah satu komponen kritis inteligensi adalah memori yang sedang bekerja (memoro-aktif). Bahkan, beberapa peneliti menganggap inteligensi hanya memiliki sedikit kelebihan di atas memori yang sedang bekerja (Kyllonen & Christal, 1990).
Teori Komponen dan Pemecahan Masalah
Pendekatan-pendekatan kognitif untuk mempelajari pemrosesan informasi bisa diaplikasiakn pada tugas-tugas yang lebih kompleks seperti analogi-analogi, masalah-masalah berseri, dan silogosme-slogisme (Stenberg, 1977, 1983). Intinya adalah memberikan jenis-jenis tugas yang digunakan pada tes-tes inteligensi dan konvensional dan mengisolasi kompenen-komponen inteligensi.
Sebuah Pendekatan Intergratif
Akhirnya, pendekatan intergratif terhadap inteligensi mengombinasikan berbagai jenis model pemfungsian kognitif sebagai dasarnya. Di dalam endekatan ini ada empat sumber perbedaan individual bagi inteligensi yang harus dipertimbangkan (Ackerman, 1988, 2005) yaitu: (1) luasnya pengetahuan deklaratif, (2) luasnya kemampuan prosedural, (3) kapasitas memori yang sedang bekerja, (4) kecepatan pemrosesan. Kelebihan pendekatan ini adalah tidak berusaha menempatkan perbedaan-perbedaan inteligensi individu sebagai sifat yang berasal dari satu sumber.
Dasar-dasar Biologis Inteligensi   
Otak merupakan organ yang berfungsi sebagai basis biologis inteligensi. Studi-studi awal seperti yang dilakukan Karl Lashley, mempelajari otak untuk menemukan indeks-indeks biologis inteligensi dan aspek-aspek lain proses-proses mental. Beberapa riset mencari hubungan antara ukuran otak dan inteligensi, dan bukti menunjukkan bahwa bagi manusia terdapat hubungan statistik sederhana dan signifikan antara ukuran otak dan inteligensi. Namun begitu sulit untuk mengetahui apa yang membuat hubungan ini terjadi.
c.       Pendekatan-Pendekatan Alternatif Terhadap Inteligensi 
Konteks Budaya dan Intelifgensi
Menurut Konstektualisme, inteligensi mestinya dipahami dalam konteks dunia nyata. Konteks inteligensi bisa  dikaji di tingkatan analisis apa pun. Hal ini bisa difokuskan di wilayah yang kecil seperti rumah, dan linfkungan keluarga, atau dikembangka di wilayah yang luas sperti seluruh budaya. Para konstektual meyakini bahwa inteligensi berkaitan erat dengan budaya.
Gardner :  Teori Multi-Inteligensi 
Howard Gardner (1983, 1993b, 1999) mengusulkan sebuah teori yang dinamainya teori multi-inteligensi, yang menyatakan bahwa inteligensi mengandung berbagai konstruk yang independen satu sama lain, jadi bukan hanya dibentuk dari satu konstruk tunggal saja. Dalam beberapa hal teori Gardner mirip dengan teori faktor. Dia mengkhususkan sejumlah kemampuan yang dikonstruksi untuk mencerminkan kecerdasan dalam hal-hal tertentu. Namun demikian, Gardner melihat setiap kemampuan ini sebagai sebuah kecerdasan yang berbeda, bukan hanya sebagai bagian dari sebuah keseluruhan.
Sternberg : Teori Triarkis Inteligensi  
Meskipun Gardner menekankan pemisahan berbagai aspek inteligensi, saya sendiri lebih cenderung menekankan tataran di mana mereka bisa bekerja bersama-sama di dalam teori triarkis  tentang inteligensi (Sternberg, 1985a, 1988c, 1996b, 1999). Menurut teori Triarkis inteligensi, kecerdasan manusia mencakup tiga aspek, yaitu hubungan dengan : (1) dunia internal, (2) pengalaman, dan (3) dunia eksternal individu.

d.      Meningkatkan Inteligensi: Strategi-Strategi yang Efektif, Tidak Efektif dan Meragukan
Inteligensi manusia sangat mudah dibentuk. Ia bisa dibentuk bahkan ditingkatkan lewat berbagai jenis intervensi (Detterman & Sternberg, 1982; Grotzer & Perkins, 2000; Perkins & Grotzer, 1997; Sternberg dkk, 1996, 1997). Namun kemudahan inteligensi untuk dibentuk ini tidak berkaitan dengan anggapan bahwa intelgensi memiliki senuah dasar genetik (sternberg, 1997). Sebuah ciri (seperti tinggi) bisa jadi sebagian atau sebagian besar berbasis genetik, namun bisa juga dibentuk lingkungan. Beberapa faktor di dalam lingkungan rumah tampaknya berkoelasi dengan tingginya skor IQ (Bradley & Caldwell, 1984). Faktor-faktor itu adalah respons emosi dan verbal dari pengashan utama dan keterlibatan pengasuhan dengan anak, penghindaran batasan dan hukuman, pengorganisasian lingkungan fisik dan jadwal aktivitas, pembagian materi-materi bermain yang tepat, dan peluang-peluang bagi vrietas di dalam stimulasi sehari-hari. Lebih jauhy lagi Bradley & Caldwell menemukan kalau faktor0faktor ini lebih efektif dalam memprediksi skotr-skor IQ ketimbang status sosio-ekonomi atau variabel-variabel strktur keluarga. 
Data Bradley dan Caldwell mestinya tidak dipakai untuk mengindikasikan bahwa variabel-variabel demografik memiliki efek yang kecil terhadap skor IQ. Sebaliknya, di sepanjang sejarah dan diberbagai budaya, anyak kelompok manusia telah diberikan status miskin sebagai anggota tatanan sosial yang paling rendah.
Sama halnya dengan lingkungan, hereditas memang berperan penting dalam perbedaan-perbedaan inteligensi individu. Warisan genetik kemungkinan menjadi batas atas kemampuan inteligensi seseorang. Namun begitu, kita sekarang tahu bahwa untuk atribut apa pun yang sebagian bersifat genetik, terdapat sebuah jangkauan reaksi.  Ini adalah jangkauan dari batas-batas luas kemungkinan yang di dalamnya sebuah atribut bisa diekspresiakn dengan berbagai cara. Oleh karena itu, setiap inteligensi seseorang bisa dikembangkan lebih jauh di dalam jangkauan luas inteligensi yang potensial (Grigorenko, 2000). Kita dapat membantu manusia menjadi lebih cerdas dengan membantu mereka mencerap, belajar, mengingat, mempresentasikan informasi, menalar, mebuat keputusan, dan memecahkan masalah denagn baik.
e.       Perkembangan Inteligensi pada Orang Dewasa  
Inteligensi berkembang sesuai pertambahan usia (Anderson, 2005). Inteligensi terkristal lebuh tinggi rata-rata pada usia dewasa lanjut ketimabang dewasa muda, namun inteligensi-cair lebih tinggi rata-rata pada usia dewasa muda ketibang dewasa lanjut (Horn & Cattel, 1966). Terus meningkatnya inteligensi terkristal menunjukkan kalau memori jangka-panjang dan struktur serta pengorganisasian representasi pengetahuan terus berkemabang di sepanjang usia (Salthouse, 1996). Meskipun para peneliti tidak sepakat terhadap kapan persisnya usia inteligensi-cair merosot, banyak peneliti sepakat kalau akhirnya beberapa penurunan rata-rata terjadi pada usia lanjut. Namun demikian, tidak semua kemampuan kognitif menaglami penurunan.  
Beberapa peneliti (seperti Schaie, 1974, 1996) mempertanyakan banyak bukti bagi penurunan inteligensi ini. Karena satu hal, pandanagn kita tentang memori dan penambahan usia bisa dibangun bersama-sama oleh laporan-laporan dari perubahan-perubahan patologis yang muncul di usia dewasa lanjut. 

KECERDASAN BUATAN (AI)
Kecerdasan Buatan(AI), diartikan sebagai cabang dari ilmu komputer yang berhubungan dengan pengembangan komputer(perangkat keras) dan program-program komputer(perangkat lunak)yang mampu meniru fungsi kognisi manusia. “fungsi kognisi manusia”bahwa kognisi yang mencakup persepsi, ingatan, pemikiran, pemrosesan bahasa, dan fungsi-fungsi lain yang berhubungan yang dilakukan dengan cara yang kurang lebih pasti.
Ketika kita mendiskusikan tentang AI, biasanya berkaitan erat dengan psikologi kognitif dan ilmu neurologi. Ide-ide dari bidang yang satu, misalnya ilmu neurologi, bisa digabungkan dengan bidang yang lainnya, misalnya AI,dan mungkin juga nantinya ide-ide lain yang muncul dari psikologi kognitif dapat diterapkan dalam kedua bidang lain tersebut. Ketiganya-AI, psikologi kognitif, dan (terutama)ilmu neurologi-telah membentuk dasar dari ilmu kognitif..
Disini kita akan membahas tentang pengenalan AI secara umum sehubungan dengan persepsi, ingatan, proses pencarian, bahasa, pemecahan masalah, penampilan artistik maupun robotik.
Sudut Pandang Sejarah
1.      Kalkulator
Kalkulator adalah bentuk tertua komputer, yang pada dasarnya adalah alat hitung. Bentuk dasarnya adalah ‘abacus’ yang digunakan di china pada abad ke-6 sebelum masehi.
2.      Komputer
Asal mula komputer moderen bisa dilacak di tahun 1940an, ketika komputer tabung vakum seperti Komputer Universal Otomatis (UNIVAC) serta komputer dan Integrator Angka Elektronik (ENIAC) ditemukan untuk mempercepat perhitungan matematika yang panjang dan menjemukan yang dialami oleh para militer ketika menyusuri jejak dari letusan meriam.
3.      AI zaman Dahulu
Jenis komputer yang paling umum digunakan saat ini terpola berdasarkan rancangan (“arsitektur”dalam istilah komputer) ahli matematika Hungaria, John Von Neumann pada tahun 1958 yang bermigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1930. Komputer-komputer ini sering kali disebut  johniacs atau rangkaian prosesor, berupa jalinan jalur elektronik yang diproses dalam beberapa seri atau dengan urutan tertentu.
4.      AI saat ini
Generasi komputer atau ilmuan kognisi saat ini lebih optimis dengan kemamapuan sebuah mesin untuk memancing fungsi neuron. salah satu perubahan dari perseptron adalah konseptron adalah konsepnya. Ketimbang menganggap menganggap otak komputer sebagai alat input dan output saja, para ilmuan menambahkan lapisan ketika, yang disebut lapisan tersembunyi.lapisan tersembunyi ini menanggapi neuron didalam otak, yang berhubungan dengan input dan output, tetapi tentunya dengan tetap menghubungkan jalinan yang satu dengan jalinan yang lain. Komputer biasanya memproses informasi secara bersusun, menggunakan sebuah model proses yang berurutan, sementara biasanya otak memeproses informasi secara paralel. Beberapa ilmuan AI sudah mulai mencari pemecahan atas perbedaan arsitektur otak dan komputer demi memecahkan masalah perbedaan fungsi tadi.
5.      AI dan kognisi manusia
Semua orang yang merangkai model proses distribusi paralel seperti neuron, telah bekerja keras untuk mencoba menemukan solusi tas pertanyaan tentang otak sebagai mesin berfikir, dan apakah komputer mampu meniru kemampuan otak serta kognisi manusia.
Otak Sebagai Mesin Berpikir
Apa yang telah kita pelajari tentang mesin berfikir kita, yang disebut otak, adalah bahwa mesin ini berbeda secara fundamental dibandingkan dengan komputer Von Neumann yang sekarang bisa digunakan. Mungkin AI akan berperan lebih jauh jika komputer lebih menyerupai otak.
Mesin Berpikir
Orang yang fanatik terhadap AI percaya bahwa tidak hanya mesin mampu meniru kognisi manusia secara persis, tetapi juga bahwa proses intelektual tingkat tinggi mampu ditampilkan hanya oleh sebuah mesin.
Di sisi lain banyak orang-orang  yang menganggap AI sebagai konsep intelektual yang korup dan meyakini bahwa orang yang yakin atas keberadaan mesin berfikir adalah pemuja yang matrealistis. Pikiran manusia adalah murni proses manusia, yang bahkan jika disintesis oleh mesin secara terpisah, tidak akan mampu di duplikasi oleh program-program AI.
Filusuf dari Universitas California di Barkeley. Dia menggambarkan 2 jenis AI:
·         AI  lemah       :    yang bisa digunakan sebagai alat investigasi kognisi manusia
·         AI  kuat          : dimana komputer yang telah diprogram dengan baik memiliki ‘pikiran’ yang bisa memahami
Tes Turing
Tes turing adalah sebuah penipuan terselubung yang memberi para ahli AI suatu hal konkrit untuk dikerjakan, dan mengalihkan perhatian mereka dari pikiran yang filosofis.
Ruang China
Untuk mengilustrasikan pandangan AI yang kuat seorang ahli menawarkan tantangan berikut: mari kita andaikan seseorang berada dalam ruangan yang dibatasi oleh tulisan-tulisan china. Dia tidak tahu apa-apa tentang Bahasa china tetapi mungkin dia akan bisa membedakan antara kaligrafi cina dan kaligrafi bukan china, orang di ruangan china akan dapat membedakan kaligrafi china meskipun orang itu tidak tahu Bahasa dan arti kaligrafi china itu sendiri.
Persepsi dan AI
Persepsi manusia di picu oleh sinyal eksternal cahaya, suara, komposisi molekul, dan tekanan. Sistem-sistem ini terdeteksi oleh sistem sensorik kita dan di aplikasikan sebagai pesan-pesan yang bisa dipahami otak.
Ada suatu isu analag AI manusia yang jarang ditampilkan, sehingga akhirnya digabungkan di sini untuk mengilustrasikan beberapa kapasitas”persepsi” dari sebuah komputer.
Analisis  Garis
Cara di mana komputer bisa diajarkan untuk mengenali bentuk geometris adalah melalui analisis fitur lokal sebuah objek yang menggunakan fakta bahwa bentuk geometris rumit telah diterjemahkan dalam bentuk yang lebih sederhana. Program ini menggunakan beberapa pola kecil yang secara sistematis dicocokkan ke setiap objek dalam pencarian pasangan objeknya.
Pengenalan Pola
Sistem pengenalan sebuah pola memiliki sebagian besar bagian yang berhubungan dengan materi visual. Format umum dari perangkat keras yang mampu menghasilkan persepsi pada sistem ini berupa raster atau matriks dari sel-sel fotoelektrik (yang merespon kekuatan cahaya).
Pengenalan Obyek yang Unik
Kemampuan kita untuk mengenali setiap bentuk ini dengan cepat sebagai fungsi dari luasnya pengalaman kita dengan objek.
Pengambilan Keputusan dan AI
Sistem yang bekerja sebagai sistem ahli disebut sistem pakar.sistem ini mengikuti aturan-aturan yang telah ada, yang sering kali menggunakan pohon keputusan, tetapi bagaimanapun sistem ini hanya bisa”memikirkan” satu hal saja
Bahasa dan AI
Para psikolog memang biasanya menganggap bahasa sebagai manifestasi utama dalam proses kognitif. Bahasa lebih dari apapun dalam variabel respon manusia, mampu merefleksikan pikiran, persepsi, ingatan, pemecahan masalah, kecerdasan, dan pembelajaran. Karna dalam pentingnya prinsip dasar psikologi, bahasa menjadi perhatian utama para ilmuan AI
Arti dan AI
Walaupun fakta bahwa beberapa percakapan komputer cukup baik untuk seringkali mengelabui beberapa orang, mereka tidak kemudian gagal karena kurangnya ingatan akan kata, yang hampir tak terbatas; atau pada kemampuan mereka dalam menghasilkan kalimat bermakna, yang rupanya cukup banyak; atau pada fasilitas mereka untuk melafalkan huruf-huruf, yang cukup masuk akal. Mereka gagal karena kekurangan mereka dalam memahami apa sesungguhnya bahasa itu.
CSR
Sistem pengenalan ucapan yang berulang-ulang (continuous speech recognition) adalah program yang mengenali dan merekam ucapan yang alami. Tampaknya, pemahaman atas ucapan yang berulang-ulang sepertinya tidak terlalu dibutuhkan. Bagaimanapun juga, kebanyakan manusia dan beberapa hewan mengenali dan merekam beberapa jenis ucapan.
Program Pemahaman Bahasa
Sejak NETtalk dan program pengenalan ucapan berulang telah dianggap sebagai ilmu pengetahuan dunia dalam hal beraksi secara masuk akal dengan manusia, ternyata hal tersebut juga memunculkan program lain yang menggabungkan beberapa bentuk pemahaman manusia dalam sistem mereka. Diantara yang paling terkenal dan paling kontroversial adalah program pemahaman bahasa yang dikembangkan di Universitas Yale oleh Roger Schank. Arah dari penelitian Schank dituntun oleh beberapa cita-cita, meliputi pengembangan program yang akan mampu memahami teks tertulis, meringkas bagian penting dari sebuah teks, menerjemahkannya ke bahasa lain, dan menjawab pertanyaan sehubungan dengan maksud dari teks tertulis tersebut.
Pemecahan Masalah, Permainan, dan AI
Salah satu alasan ilmuwan AI memperhatikan pemecahan masalah karena istilah tersebut mirip dengan berfikir, yang dalam bentuknya yang menakjubkan adalah atribut manusia yang unik. Fakta ini dan kemampuan umum mesin AI dengan kemampuannya untuk memenuhi prosedur pemecahan masalah telah membuat teknik maupun teori mengenai hal ini tumbuh pesat.
Catur Komputer
Catur komputer adalah permainan yang selama waktu permainannya memungkinkan kemunculan beberapa gerakan dari setiap pemain. Demikian juga, setiap langkah yang muncul, ditanggapi oleh lawan dengan beberapa langkah tertentu. Demi tujuan praktisnya pergantian gerakan ini sudah diatur ─ yaitu bahwa permainan harus berakhir dalam kemenangan (dan kekalahan) atau seri.
AI dan Kesenian
Mungkin sekarang Anda menganggap hanya ada sedikit area dari usaha manusia yang terlindung dari sentuhan AI. Anda mungkin akan berpendapat bahwa seni ─ puisi, musik, dan kesenian ─ adalah murni sebagai manifestasi manusia yang tidak bisa disentuh oleh instrument elektronik. Ternyata, pada setiap area tadi juga sedang diproses kemungkinannya.
Contoh yang pertama, musik. Jika menangkap dan memancing skema sebuah puisi adalah mungkin, tentunya hal ini juga mungkin dilakukan terhadap tema musikal bukan? Telah dilaporkan beberapa program yang tampaknya cukup sukses memproduksi gubahan-gubahan musikal yang dinilai cukup baik oleh pendengarnya. Kedua robot. Dunia robot berkembang pesat pada tahun 1960an melalui eksplorasi luar angkasa dan kebutuhan untuk mengembangkan peralatan mekanis yang menakjubkan, yang mampu menjalankan tugas tertentu. Sebagai hasil dari kebutuhan tertentu tersebut, robot yang berhasil mendarat di Mars, telah mampu menghasilkan sekumpulan analisis kimia yang rumit.
Masa Depan AI
Di abad ke-20, para psikolog telah dikalahkan oleh peralatan yang paham tentang tabiat, yang telah memberikan teknik dan objektifitas terhadap pembelajaran jiwa dan penampilan manusia. Karena suatu alasan, pemahaman tentang tabiat mampu membuka jalan terhadap psikologi kognitif, yang terfokus pada representasi dalam jiwa yang telah mengembangkan bidang psikologi menjadi semakin luar biasa.
AI dan Kebutuhan Ilmiah
Melalui sebagian besar bab di sini, kita telah mendiskusikan usaha komputer untuk meniru kognisi manusia serta betapa banyak dan kompleksnya tugas yang harus diemban oleh mereka yang tergoda untuk meniru performa manusia dengan menggunakan mesin. Penelitian yang dilakukan para ilmuwan cenderung akan berubah secara signifikan beberapa tahun ke depan dengan digunakannya komputer yang telah dibekali program AI.

BAHASA
Menurut para ahli psikologi kognitif, bahasa adalah suatu sistem komunikasi yang didalamnya pikiran-pikiran dikirimkan dengan perantaraan suara atau simbol. Perkembangan bahasa mencerminkan sebuah abstraksi yang unik yang menjadi dasar kognisi manusia. Bahasa adalah sarana utama komunikasi manusia, cara pertukaran informasi yang paling lazim. Pemrosesan bahasa adalah sebuah komponen penting dalam penyimpanan pemrosesan informasi, berfikir dan pemecahan masalah.
a.       Hakikat bahasa
v  Sifat-sifat bahasa
Menurut Brown bahasa memiliki sifat, yakni:
1.      Alat komunikasi: bahasa mengijinkan kita berkomunikasi dengan satu atau lebih orang yang memahami bahasa kita.
2.      Simbol arbiter: bahasa menciptakan sebuah hubungan arbiter abtara simbol dan acuannya: sebuah ide, sebuah hal, sebuah proses, sebuah hubungan atau sebuah deskripsi.
3.      Terstruktur secara reguler: bahasa memiliki sebuah struktur; hanya susunan yang terpola secara khusus dari simbol-simbol yang memiliki makna, karena penysunan yang berbeda akan menghasilkan makna yang berbeda.
4.      Terstruktur di berbagai tingkatan: struktur bahasa bisa dianalisis di lebih dari satu tingkatan (contoh ditingkatan bunyi, tingkatan unit makna, di tingkatan kata dan di tingkatan frasa).
5.      Generatif, produktif: di dalam batasan-batasan sebuah struktur linguistik, pengguna bahasa bisa memproduksi ucapan-ucapan baru. Kemungkinan bagi penciptaan ucapan baru ini tidak terbatas sifatnya.
6.      Dinamis: bahasa terus berkembang.

v  Aspek-aspek fundamental bahasa
Ada dua aspek fundamental bahasa. Yaitu:
1.      Pemahaman reseptif dan penkodean input bahasa
2.      Pengodean ekspresif dan produktif output bahasa.
Istilah-istilah lain yang terkait adalah pemahaman verbal dan kefasihan verbal. Pemahaman verbal adalah kemampuan reseptif untuk memahami input linguistik yang ditulis atau yang diucapkan seperti kata-kata, kalimat dan paragraf. Kefasihan verbal adalah kemampuan ekspresif untuk memproduksi output linguistik.
b.      Kata-kata dan maknanya

v  Struktur tata bahasa
Kata-kata dapat digabungkan menjadi berbagai kombinasi sekalipun untuk menyampaikan ide yang sama. Secara teknis studi tentang bahasa (grammar) mencakup area fonologi (ponology), yakni ilmu yang mempelajari kombinasi suara-suara dalam suatu bahasa; morfologi (morphology), yakni ilmu yang mempelajari kombinasi potongan-potongan kata dan kata-kata itu sendiri sehingga menjadi unit-unit yang lebih besar; dan sintaktis (syntax), yakni ilmu yang mempelajari kombinasi kata-kata sehingga menjadi frase dan kallimat.
v  Dasar neurologis bagi bahasa
Salah satu analisis ilmiah paling awal terhadap bahasa melibatkan sebuah studi kasus klinis tahun 1861. Seorang dokter bedah perancis Paul Broca melakukan observasi terhadap seorang pasien yang mengalami paralisis di sebelah sisi tubuhnya, yang sekaligus mengalami hilangnya kemampuan berbicara sebagai akibat kerusakan neurologis. Para dokter pada masa itu hanya mampu melakukan pembadahan postmorter (pasca kematian). Broca menemukan cedera di bagian lobus frontalis kiri otak pasien (area broca).
Pada tahun 1875 Carl Wernnicke dalam sebuah studi kasus klinis yang lain menemukan suatu cedera di lobus temporalis kiri yang mempengaruhi pemrosesan bahasa, namun dampak kerusakan tersebut berbeda dengan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat cedera di area broca. Area broca terlibat dalam produksi bahasa (language production) sedangkan area wernicke terlibat dalam pemahaman bahasa (language comprehension). Jadi orang yang mengalami kerusakan di area wernicke masih dapat berbicara namun tidak dapat memahami ucapan orang lain.

c.        Hierarki linguistik
Linguistik adalah sebuah ilmu yang mempelajari bahasa, dengan topik pembahasan struktur bahasa dan berfokus pada pendiskripsian suara-suara, makna-makna dan tata bahasa dalam percakapan. Para ahli linguistik telah mengembangkan sebuah kerangka kerja bahasa yang bersifat hierarkis (berjenjang). Para ahli tersebut memiliki minat dalam pengembangan sebuah model bahasa. Hierarki linguistik berkisar dari komponen-komponen yang fundamental ke komponen-komponen gabungan hingga ke komponen-komponen yang sangat rumit.
v  Fonem
Fonem adalah sebuah unit dasar bahasa lisan yang saat digunakan sebagai sebuah unit tunggal, tidak memiliki makna sama sekali. Fonem adalah suara-suara tunggal dalam percakapan yang direpresentasikan oleh sebuah simbol tunggal. Fonem dihasilkan oleh koordinasi yang rumit dari paru-paru, pita suara, larynx, bibir, lidah dan gigi.
v  Morfem
Morfem adalah unit-unit terkecil yang memiliki makna. Morfem dapat berupa kata-kata atau bagian-bagia kata seperti prefiks (awalan), sufiks (akhiran) atau kombinasi prefiks-sufiks. Morfem dapat berbentuk morfem bebas atau morfem terikat (bounded morphemes).
v  Morfologi
Morfologi adalah sebuah studi mengenai struktur kata-kata.
v  Sintaktis
Sintaktis adalah peraturan-peraturan yang mengendalikan kombinasi kata-kata dalam frase dan kalimat. Dalam upaya memahami struktur bahasa, para ahli linguistik telah memusatkan upaya mereka dalam dua aspek: produksivitas dan regularitas. Produktivitas mengacu pada ketidakterbatasan jumlah kalimat, frase atau ucapan yang mungkin muncul dalam suatu bahasa dan sifat keteraturan. Regularitas mengacu pada pola-pola sistematik dalam kalimat, frase atau ucapan.

d.      Tata bahasa transformasional
Kumpulan peraturan yang mengendalikan keteraturan bahasa disebut tata bahasa (grammar), dan tata bahasa transformasional berkaitan dengan perubahan-perubahan dalam bentuk linguistik yang mungkin mempertahankan makna yang sama. Contoh:
Kucing itu dikejar anjing.
Anjing itu mengejar kucing.
Kedua kalimat itu adalah kalimat yang tepat, mengungkapkan makna yang sama, memiliki kata-kata serupa, namun berbeda dalam struktur dasarnnya. Karakteristik permukaan (surface features) dari sebuah bahasa perlu dibedakan dengan struktur yang mendalam (deep structure) dari bahasa tersebut, dan teori-teori Chomsky disusun berdasarkan teori-teori tersebut.
Ide-ide berikut ini seringkali dianggap mewakili aspek-aspek yang paling penting dari teori Chomsky:
·         Bahasa memiliki banyak keseragaman yang mendasar (underlying uniformity), dan struktur dasar bahasa seringkali sering berkaitan dengan makna sebuah kalimat dibandingkan karakteristik permukaan bahasa tersebut.
·         Bahasa bukanlah sebuah sistem tertutup (closed system), melainkan sebuah sistem yang mampu menghasilkan unit-unit baru (bersifat generative).
·         Didalam struktur-struktur dasar tersebut terdapat elemen-elemen yang umum dijumpai dalam segala bahasa, dan elemen-elemen tersebut mungkin mencerminkan prinsip-prinsip pengorganisasian kognisi yang bersifat bawaan (innate organizing principles of cognition). Prinsip-prinsip pengorganisasian tersebut mungkin secara langsung mempengaruhi pembelajaran dan produksi bahasa.
v  Proposisi
Sejumlah ahli mengasumsikan keberadaan suatu struktur dalam yang berada di bawah struktur permukaan suatu bahasa, yang mengikkuti peraturan-peraturan transformasi yang sistematik. Eksperimen Branford dan Franks (1981) terdiri dari sebuah fase akuisisi dan tugas rekognisi. Sebagaimana deskripsi Chomsky mengenai linguistik struktural (yakni tempat bahasa disusun dalam prinsp-prinsip abstrak), Bransford dan Franks telah mendeskripsikan bagaimana informasi mengenai ide-ide yang diekspresikan dalam kalimat diorganisasikan menjadi sebuah struktur skematik yang menjadi dasar dalam proses penilaian informasi baru.

e.       Psikolinguistik
v  Nature Vs Nurture
Awalnya aspek teori Chomsky yang paling kontroversial adalah gagasannya bahwa komponen yang paling penting dari bahasa bersifat bawaan (nature). Berlawanan dengan hal itu, Skinner menyangganh bahwa bahasa diperoleh melalui pembelajaran (nurture). Kaum behavioris meyakini bahwa bahasa berkembang melalui penguatan (reinforcement), namun Chomsky menyatakan bahwa satu-satunya aspek perkembangan bahasa yang diperoleh melalui penguatan adalah aspek morfologis. Chomsky menyatakan bahwa penguatan semata tidak dapat menjelaskan bagaimana seorang anak mampu menghasilkan sebuah kalimat yang memilliki tata bahasa yang sempurna, sedangkan anak itu belum pernah mendengar kalimat tersebut sebellumnya. Chomsky menawarkan kecenderungan bawaan terhadap bahasa (innate propensity for language), berdasarkan struktur yang mendalam, sebagai penjelasan yang masuk akal.
v  Hipotesis relativitas linguistik
Penekanan Chomsky dalam universalitas linguistik adalah suatu upaya untuk mengidentifikasi kinerja-kinerja linguistik yang umum didapati disegala bahasa. Gagasan yang menyatakan bahwa bahasa kita mempengaruhi persepsi dan konsepaktualisasi realita dikenal sebagai hipotesis relativitas-linguistik atau disebut juga hipotesis Whorf (Whorfian hypothesis), berdasarkan sebuah penelitian mendetail dari Benjamin Lee Whorf dapat disimpulkan bahwa suatu benda yang direpresentasikan oleh suatu kata akan dipahami secara berbeda, dan penyebab perba=edaan cara pandang terhadap realita itu tak lain adalah hakikat bahasa itu sendiri. Perkembangan sandi-sandi bahasa yang spesifik bergantung pada kebutuhn kebudayaan, pembelajaran terhadap sandi-sandi yang dilakukan oleh anggota suatu kelompok yang menggunakan bahasa tertentun juga melibatkan pembelajaran terhadap nilai-nilai yang signifikan dalam budaya tersebut, dan beberapa nilai tersebut mungkin terkait dengan kemampuan bertahan hidup.
f.       Bahasa dan Neurologi
v  Stimulasi elektrik
Para peneliti telah menggunakan konduktor elektrik dwikutub berukuran mini (tiny bipolar electrical probes) dalam eksperimen-eksperimen terhadap hewan dan manusia.
v  Pemindaian PET
Sebuah keunggulan teknologi PET dibandingkan stimulasi elektrik adalah teknik ini tidak bersifat invasive (tidak menimbulkan luka pada pasien) dan  dapat diterapkan pada orang yang sehat. Sebaliknya stimulasi elektrik umumnya dilaksanakan sebagia suatu eksperimen tambahan selama operasi psyschosurgery terhadap pasien-pasien yang menderita suatu gangguan.
g.      Membaca
Emile Javal (1878) menemukan fenomena bahwa dalam proses membaca, mata manusia tidaklah mengamati huruf demi huruf secara berurutan, melainkan bergerak dalam loncatan-loncatan kecil (geak sakadik / saccades) dengan disertai fiksasi sesaat di titik-titik tertentu. James McKeen Cattel berupaya menemukan seberapa banyak yang dapat dibaca manusia normal selama sebuah periode fiksasi visual. Dengan menggunakan tachistoscope, Cattel menentukan jumlah waktu yang diperlukan untuk mengidentifikasikan hal-hal seperti bentuk, warna, huruf dan kalimat. Saat kita membaca atau mengamati suatu objek visual mata kita melakukan serangkaian gerakan yang disebut gerak sakadik, dan terdapat sejumlah periode waktu saat mata kita berhenti salama sesaat (fiksasi) sekitar 250 milidetik. Kita melakukan gerak sakadik karena penglihatan kita memiliki kecermetan yang paling tajam hanya pada sudut yang sangat sempit, sekitar 1 atau 2 derajat. Kita menggerakkan mata kita untuk meninjau kembali teks yang telah kita baca, waktu yang kita perlukan untuk melakukan gerakan tersebut adalah sekitar 10-15 persen dari waktu keseluruhan. Gerakan tersebut disebut regresi.

v  Pemrosesan teks: bukti dari studi pelacakan pergerakan mata
Sejumlah penelitian mengenai ukuran rentang perseptual dilakukan dengan menggunakan studi pelacakan bola mata. Ketika seorang partisipan terfiksasi di suatu bagian teks yang dibacanya, para penelliti dapat melakukan manipulasi dalam tampilan lain di layar. Rayner mempelajari luas area pandang seorang pembaca, dan dia menemukan bahwa interpretasi semantik dari suatu kata dapat diterpkan hanya pada kata yang terletak satu hingga tujuh spasi dari titik fiksasi, namun di luar rentang tersebut  para partisipan hanya mampu menangkap karakteristik visual dasar (bentuk kata dan huruf-huruf awal dan akhir kata).
v  Lexical-Decision Task (LDT)
Para peneliti menggunakan LDT atau tugas oengambilan keputusan secara leksikal, yakni sejenis tuga priming yang didalamnya para peneliti mengukur kecepatan para partisipan dalam menentukan apakah sepasang kata adalah kata-kata yang memang dikeal dalam kosakata bahasa inggris. Contoh:
            Kata yang berhubungan                      BREAD-BUTTER
                                                                        NURSE-DOCTOR
            Kata yang tidak berhubungan             NURSE-BUTTER
                                                                        BREAD-DOCTOR
Meyer menemukan bahwa waktu reaksi yang diperlukan untuk mengevalusai kata kedua adalah jauh lebih cepat jika kata kedua dipasangkan dengan kata pertama yang memiliki makna yang berhubungan.
h.      Dukungan neurosains kognitif
Dalam sebuah studi mengenai pemrosesan kata-kata visual dan auditorik para partisipan diminta mengerjakan tiga tugas leksikal: 1. Mengamati sebuah titik fiksasi atau secara pasif mengamati kata-kata visual; 2. Mengulangi setiap kata yang muncul; 3. Membentuk kalimat dengan menggunakan setiap kata yang ditampilkan. Setiap partisipan mendapatkan tugas yang berbeda. Pada saat yang bersamaan, para peneliti mengamati keluaran data-data dari pemindai PET, terutama data-data yang berkaitan dengan bagian visual dan auditorik di korteks. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa setiap tugas yang berbeda mengaktifkan area-area korteks yanng berbeda. Penemuan tersebut mengindikasikan bahwa bentuk-bentuk pemrosesan leksikal yang berbeda-beda tersebut, sebagaimana yang dihipotesiskan dalam model logogen Morton, sesungguhnya dikendalikan oleh bagian-bagian yang berbeda dalam otak.

i.        Pemahaman
v  Pemrosesan top-down
Sebagian besar pemahaman merupakan bentuk pemrosesan top-down. Dalam sebuah eksperimen yanng dilaksanakan Anderson dan Pichert para partisipan diminta membaca sebuah kisah mengenai rumah yang didiami oleh sebuah keluarga yang kaya raya, berdasarkansudut pandang seorang calon pembeli rumah dan soerang pencuri. Para partisipan diminta mengingat sebanyak mungkin item semampu mereka, dan menilai derajatbkepentingan item-ite tersebut. Para partisipan yang diminta berperan sebagai calon pembeli mengingat item-item yang berkaitan dengan kondisi rumah tersebut sedangkan partisipan yang diminta berperan sebagai seorang pencuri mengingat item-otem yang mahal. Eksperimen tersebut mendemonstrasikan hakikat penyandian dan mendemonstrasikan bagaimana pemahaman terhadap materi tertulis dapat dipengaruhi oleh konteks yang dialami partisipan.
v  Pemrosesan bottom-up
Model tersebut memampukan para peneliti yang berminat terhadap struktur cerita untuk membuat prediksi yang akurat mengenai memorability jenis-jenis informasi yang spesifik mengacu pada mudah tidaknya suatu informasi diingat orang.
j.        Sebuah model pemahaman teks
Model pemahaman lebih dari sekedar suatu sistem yang berkaitan dengan cara informasi tertulis dipahami seseorang. Model pemahaman merupakan suatu teori yang memuat konsep-konsep dari berbagai ranah dalam psikologi kognitif, termasuk memori pemahaman bahasa lisan dan tulisan. Pemahaman bergantung pada dua sumber yangh berbeda, yakni skema sasaran (goal schema) yang serpa dengan pemrosesan top-down dan struktur permukaan teks yang serupa dengan pemrosesan bottom-up. Model pemahaman dibentuk berdasarkan proposisi, yakni abstraksi-abstraksi yang dibentuk berdasarkan observasi.
v  Representasi proposisional dari teks dan dari membaca
Model pemahaman menyatakan bahwa unit-unit memori mendasar dalam materi tertulis adalah proposisi. Dalam eksperimen Kintsch dan Keenan, para partisipan disajikan kalimat-kalimat. Para partisipan diminta membaca setipa kalimat dan menuliskannya. Sebuah temuan yang menarik adalah hubungan antara kerumitan proposisional dan jumlah waktu yang diperlukanpartisipan untuk membaca kalimat tersebut. Kintsch dan Keenan menemukan adanya hubungan yang sangat konsisten antara jumlah proposisi dan waktu yang diperlukan untuk membaca kalimat yang bersangkutan.

v  Persepsi-ujaran
Memahami ujaran sangat krusial bagi komunikasi manusia. Untuk memahami persepsi-ujaran, kita harus mempertimbangkan sejumlah fenomena ujaran yang menarik. Kita juga harus merefleksikan pertanyaan apakah ujaran merupakan sesuatu yang istimewa diantara semua jenis bunyi yang bisa kita serap.ada fakta bahwa bunyi ujaran menunjukkan koartikulasi. Koartikulasi terjadi ketika fonem-fonem atau unit-unit bahasa yang lain diproduksi secara tumpang tindih dalam satu waktu. Namun, koartikulasi dilihat sama esensialnya dengan transmisi efektif informasi ujaran yang juga memiliki kelemahan-kelemahan saat menyerap bunyi-bunyi ujaran yang lain. Oleh karena itulah, persepsi-ujaran dianggap berbeda dengan kemampuan-kemampuan persepsi yang lain karena sifat linguistik informasinya, maupun cara khusus yang informasi harus dikodekan menjadi transmisi yang efektif.
v  Semantika dan sintaktis
·         Semantika
Didalam semantika, denotasi adalah definisi kamus yang ketat mengenai sebuah kata, sedangkan konotasi adalah sebuah kandungan emosi, praduga dan makna-makna tidak eksplisit lainnya sebuah kata.
·         Sintaksis
Sintaktis adalah cara sistematik yang kata-katanya dikombinasikan dan diurutkan untuk menghasilkan frasa dan kalimat yang bermakna. (Carroll, 1986). Gramatika adalah studi tentang bahasa dengan memperhatikan pola-pola regulernya. Pola-pola ini berkaitan dengan fungsi-fungsi dan hubungan-hubungan kata-kata disebuah kalimat. Studi tentang sintaktis membuat analisis bahasa menjadi unit-unit yang bisa diatur, oleh karena itu relatif mudah dipelajari dan dia menawarkan kemungkinan tak terbatas bagi pengeksplorasia. Pada akhirnya tidak ada batasan bagi kombinasi-kombinasi yang memungkinkan dari kata-kata yang bisa digunakan untuk membentuk kalimat.
·         Kecenderungan sintaksis
Manusia menunjukkan sebuah ketangkasan yang menakjubkan untuk memahami struktur sintaktis. Kita mampu menunjuk kepada petandaan makna-makna kata di dalam memori, kita pun dapat menunjukkan petandaan sintaktis di dalam struktur-struktur makna. Secara spontan kita cenderung menggunakan struktur sintaksis yang mempararelkan struktur-struktur kalimat yang sudah kita kenal. Bukti lain kemampuan ajaib manusia bagi sintaktis terlihat di dalam kekelliruan ujaran yang dihasilkan (Bock, 1990).
Di awal abad 20, para ahli mempelajari sintaktis sebagian besar berfokus pada  bagaimana kalimat-kalimat bisa dianalisis berdasarkan urut-urutan frasenya. Salah satu dari analisis-analisis ini adlaah gramatika struktur-frasa, sebuah analisis sintaktis terhadap struktur frasa-frasa yang digunakan. Aturan-aturan tentang urut-urutan kata disebut aturan-aturan struktur frasa. Dengan mengamati saling keterkaitan frasa-frasa di sebuah kalimat, para ahli bahasa sering menggunakan diagram pohon. Diagram pohon membantu menyingkapkan saling keterkaitan kelas-kelas sintaksis di dalam struktur-struktur frasa kalimat-kalimat. (Bock, 1990; Wasow, 1989).
Pada 1957, Chomsky merevolusi studi tentang sintaksis. Dia menyatakan bahwa untuk memahami sintaksis, kita harus mengamati bukan hanya saling-terkaitan diantara frasa-frasa didalam kalimat, tetapi juga hubungan sintaksis diantara kalimat-kalimat. Chomsky mengamati kalimat-kalimat tertentu dan pohon diagramnya mempelihatkan hubungan yang ganjil. Dia mengusulkan studi tentang gramatika transformatif, yaitu studi tentang aturan-aturan transformasi yang membimbing cara proposisi dasar disusun ulang untuk membentuk berbagai struktur frasa baru. Di dalam gramatika transformatif, struktur sintaksis mendasar yang mengaitkan berbagai struktur frasa lewat pengaplikasian berbagai aturan transformatif. Sebaliknya, struktur-permukaan mengacu pada berbagai struktur frasa yang bisa dihasilkan dari transformasi tersebut.
·         Hubungan antara struktur sintaksis dan struktur leksikon
Chomsky menyataka bagaimana struktur-struktur sintaksis bisa berinteraksi denag struktur-struktur leksikonnya. Secara khusus, Chomsky menyatakan bahwa leksikon mental kita mengandung lebih dari sekedar makna-makna semantik yang dilekatkan disetiap kata. Setiap item leksikal selalu mengandung informasi-informasi sintaksis. Informasi sintaksisbagi setiap item leksikal mengindikasikan tiga hal:
1.      Kategori sintaksis item, seperti kata benda versus kata kerja.
2.      Konteks sintaksis yang tepat dimana morfem tertentu bisa    digunakan, seperti kata ganti sebagai subjek versus objek penderita.
3.      Informasi idiosinkratik apa pun tentang penggunaan sintaksis morfem-morfem seperti pemakaian kata kerja tidak teratur.
Sebaliknya, item-itemmengandung informasi terkait jenis-jenis slot yang didalamnya item-item bisa ditempatkan. Informasi didasarkan kepada jenis-jenis peran tematik item-item yang bisa dipenuhi. Peran-peran tematik adalah cara bagi item-item untuk bisa digunakan dalam konteks komunikasi.
k.      Kemahiran berbahasa
v  Tahap-tahap kemahiran berbahasa
Di tahun-tahun pertama kehidupan, manusia tampaknya memproduksi bahasa dengan bergerak maju lewat tahap-tahap berikut ini:
1.      Mendekut, kebanyakan mengandung bunyi vokal.
2.      Meraban, mengandung bunyi konsonan dan bunyi vokal; bagi telinga kita, merabannya bayi terus meningkat diantara pembicara-pembicara dari kelompok-kelompok bahasa yang berbeda terdengar sangat mirip (Oller & Eilers, 1998).
3.      Ucapan satu kata; ucapan ini terbatas pada bunyi vokal dan konsonan yang digunakan (Inggram, 1999).
4.      Ucapan dua kata dan ujaran telegrafik.
5.      Struktur kalimat dasar orang dewasa (mulai dari kira-kira usia 4 tahun), dengan kemahiran kosakata yang terus bertambah.
v  Imitasi
Di dalam proses imitasi anak-anak melakukan dengan tepat apa yang mereka lihat dilakukan orang lain. Kadang-kadang anak mengimitasi pola-ppola bahasa orang lain, khususnya orang tua. Namun begitu, imitasi tidak akan bisa cukup membuat anak mahir berbahasa.
v  Pemodelan
Melalui ujaran yang berfokus kepada anak, orang dewasa tampaknya keluar dari aturan bahasa yang benar hanya agar membuat bahasa menarik dan bisa dipahami bayi dan anak. Dengan cara ini, mereka juga membuka kemungkinan agar bayi meniru model aspek-aspek perilaku orang dewasa. Pemfokusan memiliki dua tujuan, yaitu untuk memperoleh dan menguasai perhatian bayi serta memberi sinyal agar bayi balik memvokalkan dan mengkomunikasikan perasaannya.
v  Pengondisian
Anak-anak mendengar ujaran dan mengkaitkan ujaran-ujaran itu dengan objek-objek dan kejadian-kejadian tertentu di lingkungan mereka. Lalu mereka memproduksi ujaran-ujaran tersebut dan dihargai oleh orang tua dan orang lain karena sudah berbicara demikian.

REFERENSI
Solso, L. Robert, Maclin, H.O, & Maclin, M.K. 2008. Psikologi Kognitif. Jakarta : Erlangga.
Sternberg, J.Robert.2008. Psikologi Kognitif edisi ke-empat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar